h1

Kegadisan yang Terenggut Paksa

January 24, 2004

Warung Kondang Cianujur : MALAM makin larut. Jalan tanah di Kampung Cicadas, Desa Sukamulya, Cianjur, hanya diterangi bola lampu 15 watt dari teras rumah-rumah yang berderet di tepi jalan. Di tengah pekat malam, sekelompok anak lelaki dan pemuda membawa obor menuju areal persawahan. Canda tawa mengiringi perjalanan mereka. Begitu tiba di parit yang ada di tepi sawah, mereka pun beramai- ramai mencari belut.

PERBURUAN belut itu berlangsung hingga larut malam. Begitu menuai banyak belut, mereka berbondong-bondong menuju rumah Jaka, tempat mereka biasa berkumpul. Di tempat itu, hidup belut-belut itu pun berakhir di penggorengan. Keletihan dalam diri mereka segera pupus begitu menikmati nasi liwet dengan lauk belut goreng yang mereka masak sendiri.

Setelah puas menikmati santapan malam itu, mereka pun satu per satu pamit pulang. Tinggal tersisa sejumlah pemuda yang masih asyik berbincang mengusir dinginnya malam. Seorang bocah berusia sembilan tahun kelelahan seusai mencari belut dan tertidur di atas balai di ruang tamu rumah tersebut.

Lepas tengah malam, seorang bocah terbangun ketika merasakan tubuhnya digerayangi seseorang. Alangkah terkejutnya anak itu ketika mengetahui Jaka, pria yang selama ini dihormatinya sebagai tokoh pemuda kampung, tengah menindih dan menggerayangi tubuhnya. Bocah lugu itu berusaha berontak, namun perlawanan anak kecil itu akhirnya padam saat diancam akan dipukuli pelaku.

Itulah pengalaman pertama anak itu dicabuli dan disodomi pelaku. Keceriaan bocah yang bercita-cita menjadi presiden itu pun terkoyak.

Sejak itu, sudah tidak terhitung berapa kali ia menjadi pelampiasan berahi tetangganya tersebut. Perasaan takut berbaur malu menyelimuti diri anak lelaki itu. Semua penderitaan dipendamnya selama lebih dari tiga tahun, termasuk rasa sakit pada dubur dan penyakit kulit yang dialaminya.

Bahkan, orangtua bocah tadi yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu baru mengetahuinya setelah kasus tersebut terkuak pada pekan lalu. “Saya malu dan takut dipukuli,” tutur bocah tadi.

Bocah yang saat ini menginjak usia 13 tahun itu tidak sendiri. Selain dia, menurut pengakuan tersangka, sedikitnya ada 25 anak lelaki dan remaja yang menjadi korban pencabulan dan sodomi selama kurun waktu lima tahun terakhir ini.

Akan tetapi, menurut laporan warga kepada pihak aparat desa setempat, jumlah korban diperkirakan mencapai lebih dari 30 anak laki-laki.

KEPALA Kepolisian Sektor (Polsek) Warungkondang Ajun Komisaris Warsito mengatakan, perbuatan Jaka semula dilakukan di rumah orangtuanya. Agar perbuatannya lebih leluasa, ia kemudian mengontrak rumah yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah orangtuanya. Seusai melampiaskan nafsunya, pelaku kerap memberi uang Rp 3.000 hingga Rp 5.000 kepada anak-anak kampung dan mengancam akan memukuli mereka jika sampai buka mulut.

Kepada para korban yang telah beranjak remaja, pelaku terlebih dulu memberi mereka minuman beralkohol hingga teler. Kemiskinan yang membelit warga kampung itu turut mempermudah pelaku melaksanakan perbuatan bejatnya. Sebagian besar korban memang telah putus sekolah karena orangtua mereka yang bekerja sebagai buruh tani tidak punya uang.

Menurut pengakuan sejumlah remaja yang jadi korban, pelaku berjanji akan mengangkat mereka sebagai anak asuh dan menanggung biaya sekolah mereka. Pelaku yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah peternakan ayam di daerah itu juga berjanji akan membelikan mereka sepeda motor.

Namun, janji itu tidak kunjung ditepati hingga kasus tersebut mencuat ke permukaan. Setelah bertahun-tahun terpendam, perbuatan bejat itu baru terbongkar setelah Ny Yuyuy (40) secara tidak sengaja mendengar perbincangan seorang bocah dengan teman sepermainannya di pekarangan belakang rumah perempuan itu. Dari mulut bocah itu terlontar bahwa ia telah dicabuli Jaka yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Kasus pencabulan itu pun jadi pergunjingan masyarakat setempat sehingga tercium oleh seorang petugas Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di Desa Sukamulya.

Setelah dicek ulang oleh petugas Polsek Warungkondang, berdasarkan keterangan anak-anak yang menjadi korban sodomi, baru diketahui ternyata tersangka telah melakukan perbuatannya itu sejak tahun 1997.

Begitu perbuatan bejatnya tercium, tersangka sempat kabur ke rumah kakaknya di Jakarta sebelum akhirnya menyerahkan diri ke polsek setempat dengan diantar kakaknya, Selasa (20/1) sore.

Kepala Desa Sukamulya Dadeng Supriyatna mengatakan, tersangka selama ini dikenal sebagai orang baik dan tidak pernah membuat masalah. Tersangka bahkan sempat menikah tiga kali dan belum dikaruniai anak. Jaka ditinggal istri terakhirnya yang bekerja di Arab Saudi.

Di kampung Cicadas, pelaku dikenal sebagai tokoh pemuda yang disegani. Selama ini tempat tinggal pelaku dijadikan tempat berkumpul anak-anak lelaki dan pemuda di kampung itu.

Di tempat itu mereka menjalani berbagai kegiatan bersama, mulai dari masak bersama, berolahraga, memancing, hingga mabuk-mabukan. Mereka makin betah bermain di tempat itu karena tersangka selalu menyediakan aneka makanan dan minuman secara gratis.

Hal itu membuat warga setempat tidak menaruh curiga bahwa tersangka sebenarnya memiliki kelainan seksual. “Kami tidak percaya hal ini terjadi pada anak kami. Kami ingin pelaku dihukum yang setimpal,” ujar ibu kandung bocah yang menjadi korban itu.

Menurut pengakuan tersangka yang di tahanan Polsek Warungkondang, ia mulai mengalami kelainan seksual setelah disodomi rekannya saat bekerja di Arab Saudi.

Ketika kembali ke Tanah Air pada tahun 1996, ternyata pengalaman disodomi itu membekas dalam dirinya. Ia pun mulai tertarik dan terangsang jika melihat anak lelaki. Akhirnya, ia pun melampiaskan hasrat seksualnya kepada anak-anak pria di kampungnya dengan cara merayu dan mengiming-imingi uang.

Kasus pencabulan dan sodomi yang terjadi di Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menambah sederet kasus pidana dengan korban anak-anak di bawah umur.

Dalam setahun terakhir, berbagai jenis kejahatan dengan sasaran anak-anak terus terjadi di daerah yang merupakan pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) di Jabar itu, mulai dari perdagangan anak perempuan di bawah umur, penculikan anak, hingga kekerasan seksual terhadap anak-anak. |KOMPAS|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: