
Berkaca Pada Fenomena Weblog
June 22, 2007
Anda tidak sepenuhnya salah jika memandang sebelah mata tentang fenomena dunia weblog (melakukan aktifitas blog melalui situs web) di Internet. Tapi itu hanya berlaku beberapa tahun lalu. Saat ini Anda musti hati-hati untuk tetap bertahan pada pandangan Anda.
Anda tidak sepenuhnya salah jika memandang sebelah mata tentang fenomena dunia
weblog (melakukan aktifitas blog melalui situs web) di Internet. Tapi itu hanya berlaku beberapa tahun lalu. Saat ini Anda musti hati-hati untuk tetap bertahan pada pandangan Anda.
Blog, memang lahir dari “dunia bawah”. Dunia “iseng” yang dianggap main-main oleh kalangan mapan. Saat membaca blog sering terlintas di pikiran: bagaimana orang bisa seterbuka itu mengungkapkan sesuatu tentang dirinya? Bagaimana mungkin sebuah catatan harian yang personal boleh dibaca di seluruh penjuru dunia?
Sebagaimana telaah teori sosial, sebuah komunitas yang eksis selalu dibentuk oleh klik atau kerumunan kecil, demikian juga dengan fenomena komunitas blogger. Dari “dunia bawah yang iseng” tersebut menggurita menjadi komunitas yang bahkan mampu membuat para pengelola mainstream media mengkoreksi eksistensi mereka.
Kalangan pebisnis pun tersentak dari tidur lelapnya tentang kemampuan mereka mengarahkan selera pasar. Saat ini bahkan korporasi besar sekalipun hampir tidak mungkin lagi untuk sepenuhnya menebarkan arogansi terhadap produk dan layanan mereka. Blog mampu memobilisasi massa sedemikian rupa, sehingga cacat produk dan layanan menjadi begitu mudahnya tersebar. Bahkan kekuatan blog mampu mempengaruhi pilihan publik terhadap suatu produk dan jasa.
Kekuatan tersebut bermula dari munculnya teknologi yang memungkinkan seseorang untuk mempublikasikan pikirannya pada sebuah halaman web. Kelihatan sederhana? Memang. Namun, bukan itu masalahnya. Yang kemudian terjadi adalah halaman demi halaman yang berisi pikiran manusia itu terhubung satu dengan yang lain membentuk suatu kekuatan dan “peta pikiran” yang besar dan terpola. Dan itu bisa dilakukan dengan biaya yang nyaris nol rupiah -karena banyaknya jasa weblog gratis di internet.
Lalu, dominasi mainstream media dan korporasi besar terhadap publik diam-diam tergerogoti. Fenomena blog perlahan tapi pasti telah menciptakan konsep baru tentang media massa. Tidak ada lagi penerbit yang berkuasa mengarahkan selera publik, karena dengan fenomena blog ini publik-lah yang “menciptakan media untuk massa”.
Jika Anda masih belum yakin bahwa fenomena ini akan mempengaruhi bisnis Anda, tengok sebentar kutipan di bawah ini:
Libur hari selasa kemarin (24 mei) kami, saya dan istri, berkunjung ke carrefour cempaka mas. Target sudah di set, membeli lemari es satu pintu dan mesin cuci dengan memanfaatkan fasilitas kredit tanpa bunga alias zepro. Kami sampai di lokasi cukup pagi, sekitar jam 10, dan sungguh kaget karena ternyata carrefour sudah sangat ramai.. mhmm.. apakah orang-orang ini juga tertarik dengan zepro seperti kami ?
Itu adalah salah satu contoh blog lokal yang berisi “peta pikiran” seseorang. Dan tidak menutup kemungkinan peta tersebut akan dibaca oleh orang lain dan pada akhirnya menjadi rujukan. Blog tersebut ditutup dengan tulisan:
Carrefour tampaknya sukses mengusung program Zepro ini yang dimulai tahun 2003 lalu. Terbukti dengan antusias pengunjung, termasuk saya dan istri, untuk memanfaatkan program ini. Juga dengan ditirunya program ini oleh hypermarket-hypermarket lainnya. Dan yang diuntungkan tentu saja kami… para konsumen…
Tulisan sederhana tersebut menemukan kekuatannya justru karena kejujuran dan keterbukaan sumber secara langsung, bukan atas pendapat suatu media. Hubungan erat antar blogger yang ditunjang oleh mudahnya konektifitas antar tulisan, membentuk kekuatan besar yang mampu mempengaruhi opini publik. Teknologi untuk “membaca pikiran” dan membentuk opini itu pun sudah berkembang pesat. Intip sejenak Technorati (http://www.technorati.com). Ini bukan mesin pencari biasa, karena yang dicari bukanlah sekadar informasi di website sebagaimana search engine konvensional lainnya, tapi adalah: apa yang ada dalam pikiran seseorang saat ini.
Akhirnya tak ada pilihan lain selain berbaur dengan fenomena ini. Sekarang mulai banyak korporasi besar yang akhirnya terjun ke dunia blog. Sebagai contoh, General Motors. Perusahaan yang sedang mengalami kemunduran dalam bisnis otomotifnya ini melakukan “gerakan” yang dipelopori oleh Bob Lutz, wakil pemimpin perusahaan itu. Lutz membuka blog (http://fastlane.gmblogs.com) yang tidak hanya sekadar berisi informasi tentang produk perusahaannya, namun juga menerima keluhan dan bahkan sindiran secara terbuka. Namun justru itulah yang akhirnya mendapat pujian dari publik. Lutz dianggap mampu menjalankan strategi komunikasi korporasi dengan baik karena membaur ke publik melalui aktifitas weblog.
Fenomena weblog telah memberikan pesan yang jelas kepada kita: jangan anggap remeh geliat media online, sekecil apapun. Anda harus segera memulai melakukan aktifitas di media online, apapun bentuknya. Karena tidak menutup kemungkinan di saat Anda tengah berada dalam satu aktifitas di media online, kompetitor Anda sudah melangkah lebih jauh ke teknologi dan fenomena berikutnya.
Anda tidak ingin dipandang “goblok” oleh pelanggan dan kompetitor Anda hanya karena Anda tidak go blog, kan?
Disadur dari salah satu BLOGGER KOMUNITY


