h1

Minyak Tanah di Cianjur Langka

March 30, 2004

Diduga karena adanya pengurangan jatah oleh pihak Pertamina untuk wilayah Cianjur, selama tiga hari terakhir minyak tanah menghilang dari pasaran. Akibatnya, warga kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah. Kalaupun ada, mereka harus membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada harga pasaran. Menurut Nani Nuraeni (38), warga Karang Tengah, sejak tiga hari lalu ia kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah karena persediaan di warung dan toko tempat biasa membeli minyak tanah sudah habis. Karena terpaksa, akhirnya ia membeli ke daerah tetangga dengan harga yang jauh lebih tinggi yaitu sekira Rp 1.500,00/liter.

“Karena sangat memerlukan minyak tanah untuk memasak, meskipun harganya lebih mahal dari biasanya terpaksa saya beli juga,” ujar Nani yang ditemui “PR”, Senin (29/3).

Menanggapi adanya kelangkaan minyak tanah di daerah Cianjur, Kabag Perekonomian Pemkab Cianjur Drs. Kusnadi Sunjaya mengatakan bahwa pihaknya akan memanggil Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Cianjur.

“Dalam waktu dekat, kami akan meminta penjelasan dari pihak Hiswana Migas sebagai distributor minyak dan gas di daerah Cianjur untuk mencari tahu apa penyebab kelangkaan minyak tanah, dan bagaimana solusi terbaik yang harus diambil pemerintah,” kata Kusnadi yang ditemui Senin (29/3).

Secara terpisah, Koordinator Daerah (Korda) Hiswana Migas Kabupaten Cianjur, Sulistyo Budi mengatakan bahwa penyebab terjadinya kelangkaan minyak tanah di wilayahnya sebagian besar diakibatkan adanya pengurangan alokasi rutin oleh pihak Pertamina. Jatah minyak tanah yang diterima sekira 24 agen di Kabupaten Cianjur setiap harinya mencapai 345.000 liter. Sejak Februari 2004 lalu, setiap agen dua kali dalam sebulan dikurangi jatahnya.

Meskipun terjadi kelangkaan, menurut Sulistyo harga jual minyak tanah di pasaran masih dinilai wajar, yaitu sekira Rp 1.200,00/liternya.

“Kebijakan ini diambil oleh Pertamina sebagai akibat dari munculnya keputusan DPR RI mengenai pengurangan pasokan minyak di daerah,” ujar Sulistyo kepada wartawan, Senin (29/3), tanpa menyebutkan jumlah pengurangan setiap agen dengan alasan yang menentukan adalah pihak Pertamina.

Sulistyo juga mengakui sampai saat ini pihak Hiswana Migas Kab. Cianjur belum tahu persis berapa kebutuhan minyak tanah masyarakat di Kabupaten Cianjur. Kalau kebutuhan minyak tanah setiap KK diperkirakan 3 liter/hari, kebutuhan minyak tanah untuk sekira 400.000 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Cianjur bisa mencapai 1.200.000 liter/harinya.

Dengan perhitungan kasar seperti ini, jatah minyak tanah yang diberikan kepada Cianjur saat ini jauh dari mencukupi. Apalagi setelah diberlakukan kebijakan pengurangan alokasi minyak tanah oleh pihak Pertamina.

Sulistyo membantah keras adanya tudingan yang mengatakan kalau ada anggotanya yang melakukan penimbunan minyak tanah sehingga mengakibatkan kelangkaan.

Menurutnya, kelangkaan minyah tanah sebagian besar diakibatkan adanya pengurangan jatah. Pengurangan ini membuat masyarakat melakukan pembelian minyak dalam jumlah besar. Sementara itu, para agen juga tidak berwenang untuk melarang masyarakat untuk membeli minyak tanah dalam jumlah besar.

“Tetapi, jika dalam perjalanan nanti menemukan agen yang berbuat nakal, kami tidak akan segan-segan melakukan tindakan dengan melaporkannya kepada Pertamina,” kata Sulstyo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: