h1

Wasidi Mencetuskan ”Gerbang Marhamah”

January 1, 2005

bupati cianjurTag : Cianjur | Bagi Bupati Cianjur Ir. H. Wasidi Swastomo, M.Si., strategi yang jitu adalah kunci untuk meraih kesuksesan. Hal itu paling tidak dibuktikan dengan keberhasilan Cianjur meraih posisi enam besar dalam Pekan Olah Raga Daerah (Porda) IX Jawa Barat, di Indramayu belum lama ini.

“Cianjur bisa sukses dalam Porda IX karena kita punya strategi jitu yang tidak dimiliki daerah lain,” ujar Wasidi.

Strategi apa yang sebenarnya dimiliki Cianjur menurut Wasidi kuncinya adalah Cianjur sejak lama sudah mengetahui secara pasti kekuatan dan kelemahan semua kontingen, yang akan berlaga di ajang even olah raga empat tahunan tingkat Jawa Barat, termasuk kekuatan dan kelemahan kontingen sendiri.

Dengan data yang dimiliki secara sistematis tersebut, Cianjur bisa menentukan berapa besar target dan peluang yang dimiliki dalam Porda sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal.

“Seperti dalam buku seni berperang yang di tulis Shun Zu, kalau ingin memenangkan peperangan, kita harus tahu apa kekuatan dan kelemahan kita dan tahu apa kekuatan dan kelemahan lawan. Kalau itu tidak dimiliki, lebih baik jangan terjun ke medan peperangan. Itu yang kami terapkan dalam menghadapi Porda kemarin,” ujar pria kelahiran Jakarta 21 Juni 1948 tersebut.

Dalam kesehariannya, sebagai seorang pemimpin daerah pun, suami dari Ir. Sri Indarti Swastomo tersebut juga menerapkan sejumlah strategi yang kadangkala membuat orang terkaget-kaget. Bahkan, tidak jarang ide dan gagasannya mendapat kritikan pedas dan dicurigai baik oleh lawan-lawan politik maupun orang luar, yang menganggap aneh kebijakan yang dibuat lulusan pascasarjana dari Intitut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2000 ini.

Seperti kebijakan yang dilakukannya dua tahun lalu, di saat banyak kalangan terkena sindrom Islam fobia, tiba-tiba Wasidi dengan berani mencanangkan penegakan Syariat Islam di Cianjur, dengan yaitu gerakan pembangunan masyarakat berakhlatul karimah (Gerbang Marhamah).

Dicurigai
Apa yang dilakukannya, serta merta mengundang tanggapan pro dan kontra dari berbagai kalangan, termasuk dari sejumlah tokoh di mancanegara. Namun, dengan penuh istikamah dan penuh percaya diri, Wasidi terus maju dengan gagasannya tersebut.

“Saya yakin kalau yang saya lakukan adalah benar dan saya ingin tegaskan, kalau Gerbang Marhamah lahir bukan untuk menciptakan masyarakat Cianjur yang eksklusif, apalagi dicurigai sebagai upaya untuk keluar dari kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang dicurigai banyak kalangan. Padahal, apa yang saya lakukan hanyalah gerakan moral untuk mengingatkan kaum Muslim Cianjur supaya menjalankan kewajibannya dan melakukan perbaikan dari segi moral dan akhlak untuk mengembalikan nilai-nilai religius pada masyarakat termasuk aparat pemerintah,” ujar Wasidi, yang punya hobi membaca.

Namun, Wasidi menyadari untuk mewujudkan masyarakat Cianjur yang marhamah, yang senantiasa hidup dalam semangat dan suasana penuh kasih sayang bukanlah hal yang mudah. Tantangan yang terberat justru datang dari kalangan intern yaitu aparatur pemerintah daerah sendiri. Saat masyarakat Cianjur masih memerlukan contoh dan figur dari aparat, lalu aparat pemerintah tidak memberi contoh moral yang tinggi, maka jangan harap masyarakat akan mengikuti anjuran untuk hidup yang marhamah.

Seiring dengan waktu, apa yang dilakukan Wasidi ternyata mendapat sambutan luas dari masyarakat Cianjur. Bahkan, sejumlah daerah di Jawa Barat juga mengikuti langkah Cianjur dengan menerapkan apa yang dilakukan Wasidi. Kini, hasilnya Gerbang Marhamah jadi spirit atau rohnya dari pembangunan di Cianjur.

Bertepatan dengan peringatan hari jadi Cianjur ke-326, Wasidi berharap agar semua kalangan di Cianjur baik eksekutif, legislatif, maupun masyarakat luas, untuk mimiliki visi yang sama dalam menyukseskan pembangunan di Cianjur.

“Karena saat ini kita berada dalam semangat gerbang marhamah, marilah kita menjadi insan-insan yang berakhlakul karimah di manapun berada. Dan bagi aparatur saya berharap agar senantiasa menjadi contoh bagi masyarakat,” ujar Wasidi.

Bagi mereka yang mencurigai bahwa Gerbang Marhamah bertolak belakang dengan kerangka pikir NKRI, Wasidi punya argumentasi untuk membantahnya. Menurutnya, visi itu memiliki tiga pilar utama, yakni menjadikan pribadi-pribadi muslim yang berakhlakul karimah, membentuk keluarga yang sakinah, dan membentuk masyarakat yang marhamah, penuh kasih dan damai. Justru dengan tiga pilar itu akan lebih memperkukuh kesatuan dalam tubuh NKRI.

Menurut wasidi, strategi lain dengan dicetuskannya Gerbang Marhamah, diharapkan dapat mengakomodasi kelompok berhaluan keras. Maksudnya agar kelompok seperti itu bisa bersama-sama menegakkan syariat Islam (SI) dalam konteks kesatuan RI. “Saya berharap, kelompok-kelompok yang memiliki beragam pemikiran, bisa memahami subtansi tentang gerakan moral yang saya canangkan. Sebenarnya SI sendiri tidak perlu ditegak-tegakan, karena akan tegak sendiri apabila seluruh individu Islamnya sudah menjalankan syariat dengan benar,” ujar Wasidi.

Wasidi juga meminta agar pihak yang merasa khawatir, bahwa Gerbang Marhamah akan dibuat sebagai peraturan daerah (Perda), hal itu ia tidak akan terjadi. Kalupun ada, adalah perda yang dibuat dengan mengimplementasikan syariat Islam itu. Misalnya perda yang mendorong agar orang muslim tidak berbuat maksiat. (PR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: