h1

Ancaman Penyakit Flu Burung

March 28, 2006

Penyakit flu burung (Avian Influenza) akan menjadi ancaman dunia (pandemi yaitu penularan penyakit yang meluas di seluruh dunia) apabila sudah terjadi tahapan penularan dari manusia ke manusia.

Tetapi sejauh ini penularan flu burung masih dalam tahap dari hewan ke manusia. Karena itu untuk menanggulangi flu burung pada manusia diperlukan kerjasama internasioanal. Terkait kerjasama internasional ini pemerintah Indonesia akan menerima bantuan Tamiflu (obat anti retroviral) dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization /WHO) sebanyak 400.000 kapsul dalam 40 ribu dus masing-masing berisi 10 kapsul. Menurut rencana obat tersebut akan sampai di Indonesia pada tanggal 27 September 2005.

Demikan penegasan Menkes DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada acara penjelasan kepada pers (press briefing)tentang situasi terkini flu burung pada manusia di Indonesia hari Senin tanggal 26 September 2005 di Jakarta. Turut hadir pada acara tersebut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Dr. I Nyoman Kandun, MPH, Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Suroso Dr. Santoso Suroso, Sp.A, MARS, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSPI Sulianto Suroso Dr. Sardikin Giriputro, Sp.P, Kepala Perwakilan WHO Georg Petersen, dan staf teknis WHO Steven Bjorge.

Menurut Menkes ada enam tahapan menuju pandemi flu burung yaitu tahap pertama yang disebut risiko rendah dimana flu burung pada hewan belum menginfeksi manusia. Tahap kedua adalah flu burung pada hewan tetapi berisiko tinggi pada manusia. Pada tahap ketiga flu burung menular dari hewan ke manusia tetapi belum ada penularan dari manusia ke manusia atau belum efektif dari manusia ke manusia. Pada tahap keempat virus menular antar manusia dalam sekelompok kecil manusia. Tahap kelima yaitu virus menular antar manusia pada kelompok yang lebih besar yang merupakan risiko tinggi terjadi. Tahap terakhir adalah tahap dimana virus menular antar manusia dalam skala luas atau telah terjadi di beberapa negara.

Kronologis perkembangan kasus flu burung di Indonesia berawal dari tanggal 25 Januari 2005 saat Menteri Pertanian (Mentan) mengumumkan secara resmi bahwa virus Avian Influenza/AI (H5N1) telah menyerang peternakan unggas. Selanjutnya Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian melakukan Serosurvei di daerah wabah AI di Bali, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Bengkulu, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Dari hasil Serosurvei ini diketahui bahwa hasil pemeriksaan Sero pada manusia negatif. Pada tanggal 19 Mei Mentan menyatakan virus AI (H5N1) bersifat asimtomatik (tanpa gejala) ditemukan pada babi di Tangerang.

Sedangkan kasus flu burung pertama pada manusia di Indonesia ditemukan pada tanggal 28 Juni 2005 yang menimbulkan kematian 3 orang warga Tangerang. Kasus berikutnya terjadi pada 6 September 2005 yang menyebabkan kematian seorang warga Jakarta Selatan. Pada tanggal 19 September 2005 Menkes menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) Nasional untuk flu burung.

Sampai dengan 26 September 2005, di Indonesia terdapat 42 kasus diduga flu burung yang tersebar 8 provinsi yaitu DKI Jakarta 28 kasus, Banten 5 kasus, Jawa Barat 3 kasus, Jawa Tengah 1 kasus, Jawa Timur 1 kasus, Sulawesi Selatan 2 kasus, Sulawesi Utara 1 kasus dan Kalimantan Timur 1 kasus. 34 kasus diantaranya dinyatakan suspek, 2 kasus probable dan 6 kasus confirm.

Berdasarkan data WHO sejak bulan Desember 2003 sampai dengan 22 September 2005 tercatat 91 kasus di Vietnam dengan jumlah penderita meninggal dunia sebanyak 41 orang. Di Thailand tercatat 17 kasus 12 orang diantaranya meninggal dunia . Di Kambodja tercatat 4 kasus, seluruhnya meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia 3 kasus, 2 meninggal dunia.

Untuk menanggulangi KLB flu burung pemerintah telah menetapkan 7 langkah strategi nasional yaitu membatasi perluasan infeksi flu burung terhadap hewan yang dilakukan oleh Deptan bersama Kementerian LH dan Dephut. Meningkatkan surveilans yang dilakukan oleh Depkes bersama Deptan, Kementerian LH dan Dephut. Meningkatkan bio security yang dilakukan oleh Depkes bersama Deptan. Meningkatkan manajemen kasus yang dilakukan oleh Depkes bersama Deptan. Meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi yang dilakukan oleh Depkes bersama dengan Deptan, Dephut, Dep.Perdagangan, serta melakukan riset yang dilakukan oleh hampir semua departemen terkait.

Menurut WHO, kelompok masyarakat yang berisiko perlu menerapkan strategi pencegahan penyakit flu burung antara lain dengan menjaga kebersihan (higiene dan sanitasi) lingkungan, menerapkan bio security pada hewan peliharaan seperti kotoran hewan peliharaan yang harus dibersihkan dan dikubur secara reguler, melakukan disinfeksi dengan menggunakan desinfektan.

Menurut Menkes sejarah penyebaran flu burung di muka bumi sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Tercatat pandemi pertama kali terjadi di Spanyol terjadi tahun 1918-1919 yang menelan korban 40 juta orang dengan jenis virus H1N1. Pandemi kedua di Hongkong tahun 1957-1958 yang menyebabkan 1-4 juta orang meninggal dengan jenis virus H2N2. Tahun 1968-1969 di Hongkong terjadi pandemi ketiga yang menyebabkan satu juta orang meninggal dengan jenis virus H3N2. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization /WHO) memperkirakan akan terjadi pandemi keempat dengan perkiraan jumlah korban sebanyak tujuh juta di seluruh dunia, namun belum diketahui kapan dan dimana akan terjadi.
[Indeks]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: