h1

KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN

November 10, 2006

oleh Nurcholish Madjid

Masalah kebahagiaan (sa’adah) dan kesengsaraan (syaqawah)
adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. Sebab tujuan
hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan
menghindari kesengsaraan. Semua ajaran, baik yang bersifat
keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti
Marxisme, misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para
pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan
kesengsaraan. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau
kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Namun semua ajaran dan
ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang
dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah
jenis yang paling sejati dan abadi.

Dalam agama-agama, gambaran tentang wujud kebahagiaan dan
kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang
kehidupan di surga dan di neraka. Meskipun ilustrasi tentang
surga dan neraka itu berbeda-beda –dalam banyak hal perbedaan
itu sangat radikal dan prinsipil– namun semuanya menunjukkan
adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan
atau kesengsaraan dalam hidup manusia.

Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia
ini saja seperti dalam Marxisme, atau di akhirat saja seperti
dalam agama-agama other-wordly, atau di dunia dan akhirat
seperti dalam Islam. Kitab Suci al-Qur’an menyajikan banyak
ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan
kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya
manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy
penyandang syaqawah, yakni, kesengsaraan) dan yang bahagia
(sa’id, penyandang sa’adah, yakni kebahagiaan). Al-Qur’an
melukiskan keadaan itu demikian,

Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba, maka tiada seorang pun akan
berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi
menjadi dua; yang sengsara dan yang bahagia.

Ada pun mereka yang sengsara, maka akan tinggal dalam neraka
di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Kekal abadi di
dalamnya, selama langit dan bumi masih ada, kecuali jika
Tuhanmu menghendaki hal berbeda. Sebab Tuhanmu pasti
melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya.

Ada pun mereka yang bahagia, maka akan berada dalam surga,
kekal abadi di dalamnya, selama langit dan bumi masih ada
kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda, sebagai anugerah
yang tiada batasnya. (QS. Hud/11:105-108)

Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan
ini dalam Islam, patut kita bahas secara sungguh-sungguh,
disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci
yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu.
Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu,
yaitu, apakah berupa pengalaman kerohanian semata, atau
pengalaman jasmani semata, ataukah pengalaman rohani dan
jasmani sekaligus, merupakan bagian dari dialog Islam sejak
masa klasik.

Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan
dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). Ini
akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian
yang cukup rumit, namun dirasa perlu kita mulai membahasnya
mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat
dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat.

KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI?

Di atas telah disinggung, sebagian agama mengajarkan adanya
kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. Bagi agama-agama
itu, kehidupan jasmani adalah kesengsaraan, karena sifatnya
yang membelenggu sukma manusia. Kebahagiaan hanya diperoleh
dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia, dalam
orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja.

Marxisme, tentu saja, mengajarkan tentang adanya kebahagiaan
atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani, dan dengan
sendirinya, semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia
ini saja. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan
sesudah mati atau akhirat. Kaum Marxis yang ateis ini mirip
dengan gambaran dalam al-Qur’an tentang golongan manusia
pemuja waktu (al-Dahr), yang hanya mempercayai kehidupan
duniawi ini saja, dan kematian adalah fase final hidup
manusia, bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama
(Lihat QS. al-Jatsiyah/45:24).

Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan
rohani atau duniawi dan ukhrawi, namun tetap membedakan
keduanya. Dalam Islam, seseorang dianjurkan mengejar
kebahagiaan di akhirat, namun diingatkan agar jangan melupakan
nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS.
al-Qashash/28:77). Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat
belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan
di dunia. Sebaliknya, orang yang mengalami kebahagiaan duniawi
belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Maka
manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu, serta
berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS.
al-Baqarah/2:200).

Walaupun begitu, banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia
sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang
beriman dan berbuat baik. Kehidupan yang bahagia di dunia
menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia
di akhirat.

Barangsiapa berbuat baik, dari kalangan pria maupun wanita,
dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik (di dunia), dan pastilah akan Kami
ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat), sesuai
dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS.
al-Nahl/16:97).

Demikian itu masalah kebahagiaan, demikian pula masalah
kesengsaraan. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat
jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini
sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat,

Adapun orang-orang yang jahat, maka tempat mereka adalah
neraka. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana, mereka
dikembalikan ke dalamnya, sambil dikatakan kepada mereka:
“Sekarang rasakanlah azab neraka ini, yang dahulu kamu
dustakan.” Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan
azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih
besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. (QS.
al-Sajdah/32:20-21)

Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan
penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan
antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi, dan bahwa
tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya
menghasilkan yang lain. Tapi memang ada dan banyak, perilaku
lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya
pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi
sekaligus. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur, dapat
dipercaya, cinta kerja keras, tulus, berkesungguhan dalam
mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan), tepat janji,
tabah, hemat, dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang
dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. Ciri tersebut
akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi
sekaligus, dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih
besar.

MASALAH INTERPRETASI

Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan
kesengsaraan dunia-akhirat itu, mereka tetap berselisih
tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi

Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran
atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan
kesengsaraan, baik dari al-Qur’an maupun Sunnnah, khususnya
keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu
perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara
harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis
(ta’wil)

Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah,
pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung
bersifat fisik. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan
tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan
tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba
fisik. Kemudian ada beberapa keterangan, baik dalam Kitab
maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman
kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik, melainkan rohani
atau sekurang-kurangnya psikologis.

Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh, yang
dikaitkan dengan “kebijaksanaan” Tuhan sebagai yang Maha
Kasih-Sayang dan Maha Adil, maka pelukisan kebahagiaan dan
kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang
wujudi atau eksistensial, dan harus dipahami dalam konteks
adres pembicaraan (al-mukhathab). Ibn Rusyd mengaitkan perkara
ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi
dan rendah, yang melahirkan piramida eksistensial, manusia
dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus, the
specials) menempati puncak piramida itu, dan kaum awam
(al-awam orang-orang umum atau kebanyakan, the commons)
menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. Kaum
awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal
masyarakat manusia.

Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme, namun dalam
pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan
dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang
jumlahnya tidak banyak, yang sanggup memahami kebenaran-
kebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan
“penyeberangan” (al-i’tibar) ke pengertian-pengertian
sebenarnya di balik alegori-alegori. Bagi mereka ini, seluruh
keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan, berbentuk
pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan
Sabda Nabi, adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan
(majaz). Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan
al-i’tibar, jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah
pelukisan itu adalah mustahil atau absurd, menurut Ibn Rusyd
wajib melakukan pemahaman serupa itu. Pemahaman me lalui
metode i’tibar adalah interpretasi alegoris atau ta’wil.
Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat
yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi
daripada kaum awam.

Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada
sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya
hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu.
Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan
hanya kepada kelompok kecil manusia saja, suatu hal yang jelas
mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan
memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan.
Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak
umum, sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta
kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. Karena
itu, dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim,
pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab
Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik, karena memang
pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan
dipahami umum. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta
berbuat baik, maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan
kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. Mereka
ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa
adanya, sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong
mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. (Lihat
Ibn Rusyd, Fashl al-Maqa]).

Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta’wil mereka
dalam berbagai penjelasan, bahwa dalam al-Qur’an Tuhan memang
menyediakan berbagai “tamsil-ibarat”, alegori atau metafor,
termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Maka sementara
masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu, baik di dunia
maupun di akhirat, adalah nyata dan tidak mungkin diingkari,
namun “tamsil-ibarat” dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat
menerima penafsiran-penafsiran, termasuk penafsiran alegoris
(tamtsili ataupun ta’wil). Bahwa banyak kandungan al-Qur’an
yang bersifat tamsil-ibarat, dapat dipahami dari firman
berikut,

Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam
al-Qur’an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. Namun kebanyakan
manusia tidak menerimanya, kecuali dengan sikap ingkar. (QS.
al-Isra’/17:89, lihat juga QS. al-Kahf/16:54, QS. al-Rum/30:58
dan QS. al-Zumar/39:27).

Lebih jauh lagi, ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang
surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat, seperti dapat
diketahui dari firman berikut,

Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk
mereka yang bertaqwa ialah, sungai-sungainya mengalir di
bawahnya, dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti, demikian
pula naungan rindang yang diberikannya. Itulah tempat
kesudahan bagi mereka yang bertaqwa, sedangkan tempat
kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. (QS.
Al-Rad/13:35)

Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang
bertaqwa ialah, di dalamnya ada sungai-sungai dari air, yang
tidak akan rusak; dan sungai-sungai dari susu, yang tidak akan
berubah cita-rasanya; dan sungai-sungai dari khamar, yang
segar melezatkan bagi yang meminumnya, dan sungai-sungai dari
madu, yang murni-bersih. Di dalam surga itu mereka mendapatkan
buah-buahan dari segala macam, juga memperoleh ampunan dari
Tuhan mereka. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang
kekal di dalam neraka, yang diberi minum dengan air mendidih,
yang minuman itu memotong-motong usus mereka. (QS.
Muhammad/47:15)

Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut
sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur’an, sepatutnya tidaklah
dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. Inilah yang
dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. Karena merupakan
pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada
lahiri (eksoterik), maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja
dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum, dan disampaikan
hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas, sebagai ajaran
“rahasia” bagi kaum khawas. Dan memang kenyataannya pendekatan
esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam, sehingga banyak
salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan
kontroversi. Beberapa pelopor pemahaman esoterik, seperti
al-Hallaj dan Suhrawardi, harus menemui kematian di tangan
penguasa, akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka.
Sebagian tokoh lagi, seperti Ibn ‘Arabi, telah meninggalkan
karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan
penuh minat, dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara
sama. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit, sulit dan
ruwet, namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang,
malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. Karena tidak
jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan.

BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN

Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak
lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan,
karena berbagai hal. Pertama, karena akses pada bahan bacaan,
termasuk di bidang kesufian atau mistisisme, yang tumbuh pesat
tidak mungkin lagi dibendung. Bahkan kiranya memang tidak
perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. Kedua, tingkat
kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut
pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau,
apalagi, stereotipikal. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad
makin tidak terhindarkan, berkat kemajuan teknologi informasi
dan transportasi.

Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas,
pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan
sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang
lebih rohani daripada jasmani atau, barangkali lebih
psikologis daripada fisiologis. Selain berdasarkan isyarat
tentang banyaknya kandungan al-Qur’an yang disebut sebagai
tamsil-ibarat di atas, kaum sufi dan para filsuf juga
mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi
jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri, terwujud dalam
ridla Allah. Sebuah firman mengatakan,

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman, pria maupun
wanita, surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
kekal di sana selama-lamanya; (dijanjikan pula) tempat-tempat
tinggal yang indah, dalam surga-surga kebahagiaan abadi. Dan
keridlaan dari Allah adalah yang akbar. Itulah sebenarnya
kebahagiaan yang agung. (QS. al-Tawbah/9:72)

Dalam menafsirkan firman Allah ini, Sayyid Quthub mengatakan,

… Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman, Surga-surga
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di sana
selama-lamanya; juga tempat-tempat tinggal yang indah, dalam
surga-surga kebahagiaan abadi… sebagai tempat kediaman yang
tenang tenteram. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan
sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi; Dan keridlaan
dari Allah itulah yang akbar. Surga dengan segala kenikmatan
yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi
tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha
Pemurah. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar.

Saat perjumpaan dengan Allah, saat menyaksikan Keagungan-Nya,
saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk
ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya,
saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar
dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya, saat
pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas
Ruh Allah… semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang
bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam
suasana kesucian total; sungguh dihadapan itu semua tidaklah
bermakna lagi setiap kesenangan, juga tidak setiap harapan…
Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma, dan
sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! “ltulah
kebahagiaan sejati yang agung”. (Sayyid Quthub, Fi Zhilal
al-Qur’an, jilid 10, hal. 254-5)

Dengan tafsirnya itu, Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan
filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. Tafsiran
bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung, sebagai
keridlaan Allah –sebagai pengalaman kesaksian rohani akan
Wujud Maha Benar itu, yang dihadapan pengalaman kesaksian itu
semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah
sebuah tafsiran kasyafi (theophanic, epiphanic, yakni,
bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran
Kebenaran Ilahi). Metodologi seperti itu dikembangkan dalam
tasawuf. Tercapainya pengalaman tersebut, termasuk dalam hidup
sekarang ini jika mungkin, menjadi tujuan semua olah-rohani
(riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah), seperti yang
diajarkan kaum sufi.

KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN

Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah
takhalli, yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari
setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah.
Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi
kepada umat manusia, termasuk pembebasan dari belenggu budaya
dan tradisi, jika menghalangi pada Kebenaran. Jika kalimat
persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase
negatif tiada Tuhan, maka tujuannya ialah pembebasan diri dari
setiap belenggu. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep
tentang “Tuhan” atau “Sesembahan”, yaitu setiap bentuk obyek
ketundukan (Arab: Ilah). Dan jika kalimat persaksian itu harus
mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase
afirmatif “kecuali Allah” (al-Lah, yang menurut banyak ahli
termasuk ‘Ali ibn Abi Thalib dan Ja’far al-Shadiq, terbentuk
dari kata-kata Illah dan artikel “al”-yakni, Tuhan atau
Sesembahan yang sebenarnya), maka yang dimaksudkan ialah
kemestian kita tunduk pada Allah, Tuhan yang sebenarnya itu
dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain.

Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan
sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un, QS. al-Syura
42:11), serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa
lam yakun lauu kufuw-an ahad-un, QS.al-Ikhlash/112:4) maka
tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis,
berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari, dan terus
mencari Kebenaran. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat
kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau
kejadian asalnya sendiri yang suci. Maka tunduk secara benar
–dalam bahasa Arab disebut Islam, yaitu sikap pasrah yang
tulus kepada Allah, Tuhan yang sebenarnya– justru akan secara
langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari
setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma.

Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan
terjangkau oleh pikiran dan khayalnya, maka sesungguhnya
keyakinan atau klaim “mengetahui Tuhan” (yang diindikasikan
oleh sikap “berhenti mencari”) adalah suatu jenis
pembelengguan diri. Tidak saja karena hal ini akan merupakan
contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi
seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak,
yaitu Tuhan), tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah
disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri.
Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri
dan keinginannya. Dengan kata lain, keyakinan bahwa diri
sendiri telah “mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan
keinginan diri sendiri, atau sikap dan pandangan yang
mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. Inilah
antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di
antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya
sendiri sebagai Tuhan (Lihat, QS. 25:43 dan 45:23).

Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan “negasi dan
afirmasi”, suatu proses “pembebasan dan ketundukan,” seperti
dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. Mengenai negasi
atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu,
atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis
tersebut –dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang
berbagai akibat dan implikasinya– salah satu yang patut
sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian,

Katakan (wahai Muhammad): “Jika orang-orang tuamu,
anak-anakmu, saudara-saudaramu, jodoh-jodohmu, serta
karib-kerabatmu; (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu
kumpulkan, perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan, serta
tempat tinggal yang untukmu menyenangkan; (jika itu semua)
lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada
perjuangan di jalan-Nya, maka tunggulah sampai saat Allah
melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk
kepada mereka yang bersemangat jahat”. (QS. al-Tawbah/9:24)

Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang
untuk membawa pertentangan dalam keluarga, besar ataupun
kecil. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan
kegiatan duniawi. Yang pertaa tidak benar, karena al-Qur’an
sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih
di antara keluarga, kerabat dan umat manusia pada umumnya. Dan
yang kedua juga tidak benar karena al-Qur’an mengajarkan
pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan, dengan
kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini, suatu
hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. Firman
Allah tersebut hanya menegaskan, bahwa jalan menuju Kebenaran,
yaitu “jalan Allah” (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah
seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya,
baik sosio-kultural (orang tua, keluarga dan masyarakat) mau
pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan, kedudukan, dan tempat
tinggal). Sebab seperti dikatakan A. Yusuf Ali dalam
menafsirkan firman ini,

Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri- orang
tua, anak-anak, saudara, suami atau isteri, atau karib
kerabat, (2) kekayaan dan kemakmuran, (3) perdagangan atau
cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan, (4)
gedung-gedung indah, baik untuk gengsi mau pun kesenangan.
Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah, kita
harus memilih mana yang lebih kita cintai. Kita harus
mencintai Allah, biarpun harus mengorbankan itu semua. (A.
Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary,
Brentwood, Maryland: Amana Corp, 1983, h. 445, catatan 1272).

Serupa dengan makna firman Allah itu, Nabi Isa al-Masih,
sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru, juga pernah
menyatakan, “Karena aku datang untuk membuat manusia melawan
ayahnya, anak perempuan melawan ibunya, dan menantu perempuan
melawan mertua perempuannya” (Matius 10:35). Dalam melakukan
pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan,
Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa
tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua,
melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas
dan drastis sebuah prinsip, orang harus memutuskan hubungan
kekeluargaan yang bersifat membelenggu, dan menjadi bebas
sepenuhnya, agar ia menjadi manusia sejati. (Erich Fromm,
Psychoanalysis and Religion, New Haven, Conn,: Yale University
Press, 1972, h. 78).

Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang
diterangkan dalam Kitab Suci, yang proses pembebasan itu
merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada
bagian pertama kalimat syahadat, “Tiada Tuhan.” Tetapi
pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio
ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan
sejati, yaitu kebahagiaan “bertemu” dengan Tuhan, Sang
Kebenaran.

“TANYALAH JALAN” (SAL SABIL-AN)

Setelah proses pembebasan, separoh lagi jalan yang harus
ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk
tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri, yang merupakan
konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian
kedua kalimat syahadat, “kecuali Allah”. Inilah Islam yaitu
ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). Telah dikemukakan
bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak, adalah
ketundukan yang dinamis, artinya ketundukan dalam wujud usaha
tak kenal henti secara tulus “mencari”‘ “mendekat” (taqarrub),
dan akhirnya “bertemu” (liqa) dengan Kebenaran. Usaha
terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh
“Jalan Allah” (sabil al-Lah), dan wujud nyata usaha tersebut
pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas
“kesungguhan dalam berusaha” (dinyatakan dalam kata-kata Arab
juha -usaha penuh kesungguhan), sehingga melahirkan sikap
hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik), ijtihad
(dalam dimensinya yang lebih intelektual), dan mujahadah
(dalam dimensinya yang lebih spiritual). Yang pertama banyak
ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan, yang kedua oleh
para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam, dan yang
ketiga oleh kaum sufi dan ahli ‘Irfan.

Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga
disebut “jalan lurus” (al-shirath al-mustaqim), karena jalan
itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci,
yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani, artinya, bersifat
terang, sebagai sumber kesadaran akan kebenaran), lurus ke
arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. Tapi justru
karena kemutlakanNya, maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak
dan tak akan terjangkau. Akibatnya, dalam menempuh jalan lurus
itu kita tidak boleh berhenti, sebab perhentian berarti
menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. Maka dalam
perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus
terus menerus bertanya dan bertanya, apa selanjutnya? Apakah
tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita
tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh, akan menyesatkan
kita dari Kebenaran, karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu?

Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial
sekali dalam mencari, mendekat dan bertemu dengan Kebenaran.
Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati
dalam permohonan kepada Tuhan, Tunjukkanlah kami jalan yang
lurus (QS. al-Fatihah/1:6). Seorang yang memang tunduk patuh
kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk
jalan yang lurus itu, terutama dalam setiap kali shalat,
kemudian “diaminkan,” baik secara sendirian maupun bersama
orang lain. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur’an
sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada
pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi, siang, sore,
saat terbenam matahari dan malam) (QS. al-Nisa 4:103), maka
salah satu “pesan” yang dikandungnya ialah agar kita bertanya
tentang jalan yang lurus itu setiap saat, tanpa
henti-hentinya. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita
tempuh, juga yang akan kita tempuh, tak boleh dipastikan
sebagai mutlak lurus. Justru amat berharga dalam menempuh
jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh,
yaitu jihad, ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Dalam
kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu
takut membuat kekeliruan, asalkan tak disengaja, karena
kekeliruan pun, yang toh tidak akan kita sadari pada saat
mengalaminya sendiri, masih akan memberi kebahagiaan, meskipun
tidak sepenuhnya. Inilah makna penegasan Nabi bahwa
barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu ia menempuh
jalan yang (ternyata) benar, ia akan mendapatkan pahala ganda,
dan jika (ternyata) keliru, maka ia masih mendapatkan satu
pahala (sebuah Hadist terkenal).

Sesungguhnya dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa berusaha secara
dinamis, mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu
sendiri, sudah merupakan sumber mata air pengalaman
kebahagiaan yang tinggi. Al-Qur’an melukiskan bahwa dalam
surga, yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman
kebahagiaan sejati, para penghuninya akan diberi minum yang
sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air
yang bernama “salsabil-an” atau “sal sabil-an.” Sebuah
metafor, alegori atau makna kiasan yang sungguh indah; karena
perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya
ialah “tanyalah jalan”.

Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala
yang ramuannya ialah zanjabil, dari mata air yang ada, yang
disebut salsabil. (QS. al-Insan/76:17-18)

Menafsirkan metafor dalam firman ini, Muhammad Asad mengatakan
bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib, sebagaimana dikutip
Zamakhsyari dan Razi, menerangkan kata-kata salsabil-an jelas
merupakan kata majemuk itu, yang dapat dibagi menjadi dua
komponen, “salsabil-an” (“tanyalah [atau “carilah”] jalan”):
yakni, “carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan
perbuatan baik”. (Lihat, Muhammad Asad, The Message of the
Qur’an, h. 917, catatan 17). Dan Yusuf Ali menafsirkan firman
itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini
membawa kita kepada ide metaforis yang lain. Perkataan itu
secara harfiah berarti, “Carilah Jalan”. Jalan itu sekarang
terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi… (Lihat, A. Yusuf
Ali, The Holy Qur’an, h. 1658, catatan 5850).

Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi,
telah kita bicarakan, metodologi itu mengharuskan adanya
proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan, asumsi-asumsi
dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar, agar supaya
dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi
kemurnian sejati (ikhlash). Jika dalam konteks duniawi
berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis, maka
dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu, pra-asumsi dan
premis justru harus dilepaskan. Tapi, meskipun tanpa ada
pra-asumsi atau premis, berpikir dalam konteks kesufian
tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. Kenyataan bahwa
al-Qur’an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari
dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan
pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. Justru
tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan,
adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi.
Kata Erich Fromm:

I should like to note that, quite in contrast to a populer
sentiment that mysticism is an irrational type of religious
experience, it represents”, the higgest development of
rationality in religious thinking. As Albert Schweitzer has
put it: “Rational thinking which is free from assumptions ends
in mysticism.” (Erich Fromm, ibid, h. 90, catatan 9).

(Saya harus memberi catatan bahwa, sangat berlawanan dengan
perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman
keagamaan yang tidak rasional, ia justru mengetengahkan
perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan.
Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: “Pemikiran rasional
yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme”).

Pembuangan asumsi-asumsi adalah fase pembebasan yang amat
sulit dalam menempuh jalan menuju hakikat. Kesulitan itu dapat
dipahami antara lain dari peringatan Ibn ‘Arabi dalam sebuah
syair kesufiannya,

Barangsiapa mengaku dengan pasti bahwa Allah bergaul dengan
dirinya, dan ia tidak lari (dari pengakuan itu), maka itu
adalah tanda bahwa ia tak tahu apa-apa.

Tidak ada yang tahu Allah kecuali Allah sendiri, maka
waspadalah, sebab yang sadar di antaramu tentulah tidak
seperti yang alpa.

Ketiadaan kemampuan menangkap pengertian adalah ma’rifat
begitulah memang pandangan akan hal itu bagi yang berakal
sehat. Dia adalah Tuhan yang sebenarnya, yang pujian
kepada-Nya tidak terbilang, Dia adalah Yang Maha Suci, maka
janganlah kamu buat bagi-Nya perbandingan.

(Ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, 1:270).

Jadi perasaan tahu Tuhan adalah justru pertanda tidak tahu
apa-apa. “Mengetahui Tuhan” mengesankan adanya hasil pencarian
rasional yang luar biasa. Tetapi sekali orang menginsafi bahwa
Tuhan adalah Wujud Mutlak, yang berarti tidak akan terjangkau
wujud nisbi seperti manusia dan seluruh alam raya ciptaan-Nya,
maka ia pun akan paham bahwa perasaan, apalagi keyakinan,
bahwa bila ia tahu Tuhan adalah kebodohan yang tiada taranya.

Dalam gambaran Ibn ‘Arabi, bahkan seandainya seseorang dapat
mengetahui alam gaib, maka saat alam gaib itu tersingkap
baginya adalah juga saat ia tertutup baginya. Jadi, sejalan
dengan sifat paradoksal kenyataan-kenyataan, justru saat
seseorang tahu alam gaib adalah juga saat ia tidak tahu.

Jika matahari ilmu telah terbenam. maka bingunglah
akal-pikiran yang kemampuannya hanya dalam teori pembuktian.
Kalau seandainya alam gaib itu dapat disaksikan oleh mata
penglihatan, maka saat munculnya alam gaib itu adalah juga
saat ia terbenam. (Ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah, 3:57)

Maka perjalanan mencari Tuhan mengikuti garis lurus atau
al-shirath al-mustaqim adalah perjalanan yang mensyaratkan.
kekosongan pikiran perbandingan mengenai Tuhan dan bebas dari
asumsi-asumsi, yang diistilahkan dalam ilmu tasawuf sebagai
akhalli, pengosongan diri. Inilah tawhid dalam tingkatnya yang
amat tinggi, sekaligus amat abstrak (mujarrad).

Kemudian ada isyarat dalam al-Qur’an bahwa Nabi sendiri pun
melakukan takhalli Nabi diperintahkan agar menyatakan bahwa
beliau hanyalah seorang Utusan Tuhan, antara lain untuk
mengajarkan kepercayaan pada adanya alam gaib, namun beliau
hanyalah seorang manusia yang diutus Allah, dengan mengikuti
ajaran yang diwahyukan pada beliau dan menyampaikan ajaran itu
kepada masyarakat manusia,

Katakan (Muhammad): “Aku tidak pernah mengaku kepadamu bahwa
aku memiliki perbendaharaan Allah juga tidak aku mengetahui
alam gaib. Aku pun tidak pernah mengaku kepadamu bahwa aku
adalah seorang malaikat. Aku hanyalah mengikuti apa yang
diwahyukan kepadaku.” Katakan (Muhammad): “Apakah sama antara
orang yang melihat dan orang buta? Apakah kamu tidak
berpikir?” (QS. al-An’am/6:50)

Lebih lanjut, senafas dengan prinsip-prinsip di atas, Nabi
juga diperintahkan Allah menyatakan bahwa beliau tidaklah
bermaksud membuat hal-hal baru terhadap apa yang telah
diwariskan pada Rasul terdahulu, dan bahwa beliau sendiri juga
tidak tahu apa yang akan diperbuat Allah terhadap beliau
(misalnya, mengingat bahwa sebagai Rasul terdahulu ada yang
menjadi korban, sampai terbunuh, oleh misi sucinya) Nabi
hanyalah mengikuti wahyu yang diterimanya, dan beliau hanyalah
seorang pembawa peringatan yang tidak meragukan,

Katakan (Muhammad): “Aku bukanlah seorang pembuat bid’ah di
antara Rasul-rasul (yang sudah-sudah), dan aku tidak pula tahu
apa yang akan diperbuat (oleh Tuhan) kepadaku, juga tidak (apa
yang diperbuat) kepadamu. Aku hanyalah mengikuti apa yang
diwahyukan kepadaku dan aku hanyalah seorang pembawa
peringatan yang jelas tidak meragukan. (QS. al-Ahqaf/46:9)

Bagi seorang yang menerima pengajaran langsung dari Tuhan dan
bertugas menjadi utusan-Nya, Nabi pasti mengetahui apa yang
benar dan apa yang salah. Beliau pasti mengetahui pula siapa
yang mendapat petunjuk Tuhan dan siapa pula yang sesat di
antara manusia ini, termasuk di antara beliau sendiri
berhadapan dengan kaum yang menolak kebenaran yang beliau
ajarkan. Namun Allah masih mengajari beliau agar menerapkan
apa yang disebut (dalam bahasa Inggris) the benefit of the
doubt atau hikmah keraguan, sebagai metodologi pencarian
kebenaran,

Katakan (Muhammad): “Siapa yang memberi kamu semua rizqi, baik
yang dari langit maupun yang dari bumi? Katakan: “Allah! Dan
boleh jadi kami, atau kamu, yang pasti berada di atas petunjuk
kebenaran, atau pasti berada dalam kesesatan yang terang.”
(QS. Saba’/34:24)

Semuanya itu dalam pandangan kesufian dan filsafat Islam,
adalah jalan sebenarnya menuju dan menemukan kebahagiaan.
Metafor yang telah disebutkan bahwa “mata air” di surga itu
dinamakan “sal sabil-an” atau “tanyalah jalan” melukiskan
bahwa kebahagiaan tidaklah bersumber dari perasaan kepastian
dalam pengalaman pencarian Kebenaran. Justru pengalaman rohani
ketika dengan penuh ketulusan hati dan niat yang murni
sungguh-sunggah mencari, dalam ketegangan antara kecemasan dan
harapan (khawf-an wa thama’-an) yaitu kecemasan kalau-kalau
gagal menemukan Kebenaran, dan harapan bahwa dengan Kebenaran
itu akhirnya bakal terjadi perjumpaan (liqa). Seraya dengan
itu, terJadi pula perlibatan diri dalam usaha perbaikan bumi
dan menjaganya dari kerusakan yang mungkin menimpa. Itulah
inti jalan menuju kebenaran, dan sumber sejati cita-rasa piala
melimpah (ka’s-an dihaq-an) penuh minuman kebahagiaan. Semua
itu dapat kita timba dari petunjuk Ilahi dalam al-Qur’an, yang
patut sekali kita renungkan:

Serulah Tuhanmu sekalian, dengan kerendahan hati dan suara
sunyi sesungguhuya Allah tidak suka kepada mereka yang kelewat
batas. Dan janganlah kamu merusak bumi setelah bumi itu
diperbaiki. Lalu serulah Dia dalam kecemasan dan harapan.
Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat
kebaikan. (QS. al-A’raf/7:54-55)

RAHMAT ALLAH DAN KERIDLAAN-NYA

Dengan mengutip sebuah firman Allah di bagian terdahulu dan
tafsir atau komentarnya Sayyid Quthub, kita mengetahui bahwa
keridlaan Allah adalah ganjaran kebahagiaan yang tertinggi dan
paling agung kepada kaum beriman dan bertaqwa. Dan keridlaan
(Indonesia: kerelaan, yakni, perkenan) Allah itu tidak
terpisah dari rahmat atau kasih Allah kepada manusia.
Kebahagiaan tertinggi adalah pengalaman hidup karena adanya
rahmat dan keridlaan Allah. Seperti ditafsirkan banyak ahli
pikir Islam, termasuk Sayyid Quthub tersebut di muka, sebagai
puncak pengalaman kebahagiaan, keridlaan Allah membuat segala
kenikmatan yang lain menjadi tidak atau kurang berarti. Rahmat
dan keridlaan Allah itulah yang dijanjikan kepada orang-orang
beriman dan berjuang di jalan-Nya, seperti difirmankan,

Mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad dijalan Allah
dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih agung derajatnya
disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia. Tuhan
mereka menjanjikan kabar gembira kepada mereka, dengan rahmat
dan keridlaan-Nya dari Dia, serta surga-surga yang di sana
mereka peroleh kenikmatan yang mapan. (QS. Al-Tawbah/9:20-21)

Lebih menarik lagi adanya keterangan bahwa keridlaan itu
sesungguhnya suatu nilai yang timbal balik antara Allah dan
seorang hamba-Nya. Sesungguhnya hal ini adalah sangat masuk
akal belaka, karena dengan sendirinya Allah akan rela kepada
seorang hamba, jika hamba itu rela kepada-Nya. Dan kerelaan
seorang hamba kepada Khaliqnya tak lain adalah salah satu
wujud nilai kepasrahan (Islam) hamba itu kepada-Nya. Inilah
gambaran tentang situasi mereka yang telah mencapai tingkat
amat tinggi dalam iman dan taqwa, seperti gambaran mengenai
mereka itu dari masa lalu.

Dan mereka, para pelopor pertama, yang terdiri dari para
Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak
mereka dengan baik, Allah rela kepada mereka, dan mereka pun
rela kepada-Nya. Dan Dia menyediakan untuk mereka surga-surga
yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, dan mereka kekal di
sana selama-lamanya. Itulah kebahagiaan yang agung. (QS.
al-Tawbah/9:100)

Juga seperti lukisan tentang jiwa yang mengalami ketenangan
sejati (muthma’innah), yang dipersilakan dengan penuh kasih
sayang kembali kepada Tuhannya dalam keadaan saling merelakan
antara Tuhan dan hamba-Nya, kemudian dipersilakan pula agar
masuk ke dalam kelompok para hamba Tuhan, dan akhirnya
dipersilakan masuk ke surga, lingkungan kebahagiaan,

Wahai jiwa yang tenang-tenteram, kembalilah engkau kepada
Tuhanmu, merelakan dan direlakan, kemudian masuklah engkau ke
dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah engkau ke dalam
surga-Ku. (QS. al-Fajr/89:27-30)

Jadi keridlaan Allah itulah tingkat kebahagiaan tertinggi.
Maka kaum sufi senantiasa menyatakan, “Oh Tuhanku, Engkaulah
tujuanku, dan keridlaan Engkaulah tuntutanku.” Bagi kaum sufi,
kebahagiaan yang lain tak sebanding dengankeridlaanAllah
sampai-sampai, seperti didendangkan Rabi’ah al-‘Adawiyah,
“masuk neraka” pun mereka bersedia, karena mereka rela kepada
Allah dan mengharapkan kerelaan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: