h1

Ayam Pelung Terancam Punah

March 20, 2007

DAMPAK merebaknya penyakit flu burung, telah mengakibatkan omzet penjualan ayam pelung anjlok. Bahkan bisa dikatakan terhenti. Rencana pemusnahan secara massal berbagai jenis unggas, terutama unggas nonkomersial yang dipelihara di lingkungan permukiman, mengakibatkan keberadaan ayam pelung terancam punah.

Ratusan peternak ayam pelung (gallus domesticus var pelung) di Kab. Cianjur mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Pasalnya, dalam 3 bulan terakhir, omzet penjualan ayam pelung mengalami penurunan sangat tajam mencapai 75 persen. Hal tersebut terjadi lantaran imbas merebaknya wabah flu burung.

Hal tersebut dikatakan Agus Abdurrachman, Ketua Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (Hippapi) Kab. Cianjur. Menurut Agus, dalam sebulan terakhir, praktis tidak ada transaksi jual-beli ayam pelung. Konsumen dari Jakarta dan Bandung serta kota-kota lainnya pun tidak ada yang datang lagi ke Cianjur. Padahal, menurut dia, tak satu ekor pun ayam pelung yang terkena virus flu burung. “Tapi, penjualan ayam pelung akibat dampak wabah tersebut mengalami penurunan hingga 75 persen,” ujarnya.

Agus mengemukakan, biasanya setiap hari terjadi transaksi antara 400 hingga 500 ekor, terutama bibit berusia antara 1 hingga 3 bulan. Satu ekor bibit, kata Agus, harganya berkisar antara Rp 30.000,00 hingga Rp 50.000,00. “Tergantung jenis dan kualitas induk dan pejantan. Kalau jantannya ayam pelung juara, satu ekor bibit, ditawar Rp 100.000,00 pun tidak akan dijual,” ujar Agus.

Saat ini, yang tercatat sebagai anggota Hippapi Cianjur sekira 400 peternak. Ayam pelung, merupakan jenis unggas unggulan khas Cianjur yang belum pernah terkena virus flu burung. Ayam pelung ditangkar secara khusus oleh para peternak sebagai produk unggulan Kabupaten Cianjur. Kelebihannya, selain memiliki bentuk tubuh dan bulu yang indah, ayam pelung juga terkenal karena suaranya yang panjang dan merdu. “Harga ayam pelung dewasa kualitas juara bisa mencapai puluhan juta rupiah,” kata Agus.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur, Chairul Anwar, membenarkan adanya penurunan drastis omzet penjualan ayam pelung hingga 75 persen. Padahal, kata Chairul, ayam pelung tidak terkena flu burung secara langsung. “Kami sudah melakukan koordinasi dengan para peternak untuk melakukan vaksinasi dan biosecurity secara ketat sehingga ayam pelung terhindar dari wabah flu burung,” ujarnya.

Diakui Chairul, selama ini pihaknya tidak mempunyai anggaran untuk penanggulangan flu burung. Anggaran yang dimiliki hanya untuk penanggulangan penyakit menular hewan. “Anggaran itu jumlahnya Rp 150 juta,” ujarnya.

Mananggapi rencana depopulasi unggas nonkomersial di lingkungan permukiman warga, dijelaskan Chairul, pihaknya masih belum menentukan sikap. Pasalnya, pemkab tidak mempunyai anggaran untuk memberikan kompensasi. Anggaran untuk itu, kata Chairul, diserahkan ke pemerintah pusat.

Masalah perkembangan penanganan flu burung di Cianjur, kata Chaerul, telah dilaporkan kepada Bupati Cianjur. Dikatakannya, pihaknya telah memberikan sejumlah masukan sebagai pertimbangan. “Dilaksanakan atau tidak, kami belum bisa menentukan,” ucapnya.

Asisten Bidang Perekonomian Pemkab Cianjur, Kasmiri, mengungkapkan, sebelum dilakukan depopulasi, kemungkinan besar akan dilakukan pemetaan ke daerah-daerah untuk menentukan kawasan endemis atau pernah terjangkit flu burung. Menurut Kasmiri, walaupun harus dilakukan depopulasi terhadap unggas nonkomersial di permukiman warga, akan dilakukan sosialisasi terlebih dulu. “Kalau tindakan depopulasi dilakukan secara serentak, akan menimbulkan gejolak,” jelasnya.

Ada kabar baik yang disampaikan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh, mengenai keberadaan ayam pelung ini. Menurut Tjetjep, tidak akan ada depopulasi terhadap ayam pelung. Namun, semua pemilik ayam pelung harus melaporkan keberadaan ternaknya agar bisa dipantau Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan).

Menurut bupati, pihaknya mendapat keluhan dan kekhawatiran dari sejumlah penggemar maupun peternak ayam pelung di Cianjur. Menurut dia, pemkab akan berupaya semaksimal mungkin agar hewan cagar budaya tersebut tidak ikut dimusnahkan seperti instruksi pemerintah pusat tentang larangan memelihara unggas nonkomersial di lingkungan penduduk.

Tjetjep mengaku, akan segera menginstruksikan Disnakan agar melakukan pendataan populasi ayam pelung di Cianjur. “Disnakan nantinya akan mengarahkan para penggemar maupun peternak untuk melakukan pemeliharaan ayam pelung sesuai standar baku yang diharuskan pemerintah,” jelasnya.

Diungkapkan pula oleh Tjetjep, jika ke depan ditemukan ada indikasi ayam pelung terinfeksi virus H5N1 (Avian influenza), tentunya harus dimusnahkan, tapi bukan berarti semua. “Hanya ayam pelung yang terinfeksi dan ayam lainnya yang berada dalam radius tertentu,” katanya.

Sekarang, ujar Tjetjep, pemkab melalui Disnakan mulai melakukan sosialisasi kepada sejumlah tempat tentang instruksi larangan pemeliharaan unggas nonkomersial tersebut. Pihaknya, ungkap Tjetjep, akan benar-benar mempertimbangkan langkah yang tepat untuk memberlakukan instruksi tersebut di Cianjur. (PK-1)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: