h1

Melanjutkan Sejarah Ayam Pelung dan Maen Po

May 29, 2007

ayam-pelung-riva.jpgRiva Cianjur – SIANG itu, sesosok laki-laki tampak terkantuk-kantuk di atas kursi malas. Di hadapannya, berjajar ratusan kurung ayam pelung (gallus domesticus var pellung). Namun, telinga laki-laki berusia 52 tahun yang memiliki nama lengkap Memet Mohammad Thohir Abdurrahman, hanya terpusat pada suara ayam pelung bernama Kinanti.

”Kalau saya tidak menjadi juri, Kinanti selalu ikut kontes dan juara,” tutur Ketua Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (Hippapi) Jawa Barat ini saat ditemui di rumahnya, Jln. Oto Iskandardinata, Cianjur, beberapa waktu lalu.

Menurut Kang Memet, demikian ayah 4 anak ini biasa disapa, selain dari sisi ekonomi sangat menguntungkan, alasan ia memelihara ayam pelung lantaran cinta. ”Juga hitung-hitung menyelamatkan sejarah karena ayam pelung merupakan satu-satunya hewan ciri khas dari Cianjur,” ujarnya.

Bagi Kang Memet, menjatuhkan pilihan menghidupi keluarga dengan memelihara ayam pelung bukan tanpa risiko. Penangkaran Ayam Pelung ”Kinanti” yang didirikannya tahun 1987 ini sering digoyang isu yang menyebabkan anjloknya harga. Terakhir, isu flu burung menyebabkan sekitar 75 persen omzet penjualan turun. ”Waktu itu kerugian mencapai Rp 70 juta lebih, karena konsumen takut membeli ayam pelung,” ujar sarjana ekonomi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Inaba Bandung ini.

Namun, Kang Memet bergeming. Ia mengaku tidak memiliki keahlian lain selain memelihara ayam pelung. Untuk jerih payahnya tersebut, selain memiliki beberapa ayam pelung kategori juara, ia pun berkali-kali menyabet penghargaan sebagai penangkar ayam pelung. Di antaranya penghargaan dari Bupati Cianjur tahun 1999 dan 2005 serta Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan (Ismapet) Award tahun 2001.

Menyelamatkan aset sejarah adalah tujuan utama Kang Memet saat ini. Setidaknya, pada saat transaksi ayam pelung digoyang isu flu burung, Ketua Koordinator Dewan Juri Nasional Ayam Pelung ini berusaha untuk meyakinkan sekitar 400 peternak ayam pelung anggota Hippapi untuk tidak menyerah. ”Waktu itu, saya sering berkeliling untuk melihat kondisi para peternak yang sedang mengalami stagnasi,” kata Memet sambil menambahkan, sampai sekarang belum pernah ada satu ekor ayam pelung pun yang terserang virus flu burung. Sebab, katanya, secara fisik kondisi ayam pelung sangat kuat terhadap serangan penyakit.

Dijelaskannya, ayam pelung mulai dikenal sejak tahun 1850 di Bunikasih, sebuah kampung di kaki Gunung Gede. Di kampung ini terdapat ulama bernama K.H. Jarkasih yang memimpin Pondok Pesantren Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Ayam yang oleh warga sekitar disebut pelung karena kekhasan suaranya yang ”melung” (panjang) ini kemudian menjadi hewan peliharaan kaum menak Cianjur karena suaranya yang panjang dan merdu. ”Sekarang, pehobi ayam pelung bukan hanya dari Cianjur, tapi sudah menyebar ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Selain ayam pelung, menyelamatkan sejarah bagi Kang Memet adalah melestarikan Maen Po (seni silat). Ia pun merupakan keturunan langsung penggagas salah satu aliran silat tradisional khas Cianjur yang bernama Aliran Sahbandaran. Aliran seni maen po ini sangat eksklusif sehingga tidak sembarang orang mengenalnya. Karena salah satu ajaran maen po aliran Sahbandaran adalah ”guguru teu di tempat umum” atau tidak mengajarkan ilmu di depan umum. ”Kalau sedang latihan, ada orang datang, kami pura-pura sedang ngobrol. Simbol ini agar tidak terkesan menggurui karena yang pintar maen po ini banyak alirannya,” ujarnya.

Menggeluti ayam pelung dan maen po bagi Kang Memet merupakan profesi yang tidak bisa diukur oleh materi. Meskipun, tukasnya, dari sisi bisnis juga tergolong menjanjikan. ”Alhamdulillah, saya bisa menghidupi anak dan istri dari memelihara ayam pelung,” ujarnya. Ada ayam pelung Kang Memet ditawar Rp 30 juta, tapi tidak dijual dengan alasan untuk bibit pejantan.

Sementara untuk urusan maen po, aktivitas Kang Memet melayani para peneliti yang hendak mempelajari spesifikasi silat khas Cianjur ini. ”Terakhir, saya membimbing peneliti dari Cambridge University,” ujarnya. (PK-1)  http://www.pikiran-rakyat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: