h1

Selingkuh dan Perselingkuhan

October 29, 2007

AJARAN agama mana pun di dunia ini, pasti tak ada yang membenarkan perselingkuhan dalam rumah tangga. Begitupun dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti memandang negatif perselingkuhan, termasuk di negara-negara Barat sekalipun, yang terkenal dengan sekulerisme dan hedonismenya. Pernikahan, benar-benar dianggap sebuah “wadah” yang harus steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak 100% bagi pasangan suami-istri, tak peduli berapa pun umur pernikahannya, dan bagaimanapun kondisi pernikahannya.

Akan tetapi, realitas hidup di masyarakat berkata lain. Tanpa perlu data statistik yang resmi dan valid, kita pasti tahu betapa mudahnya perselingkuhan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat kita. Kita tak perlu menonton sinetron, telenovela, atau infotainment di televisi untuk bisa menyaksikan perselingkuhan, karena hal itu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di depan mata kita. Perselingkuhan bisa dilakukan oleh tetangga kita, kerabat kita, saudara kita, teman kita, teman kerja kita, atasan kita, guru/dosen kita, sahabat dekat kita, orang tua kita, saudara kandung kita, atau bahkan kita sendiri.

Perselingkuhan, dengan atau tanpa hubungan seks, meskipun jelas-jelas haram menurut agama dan dicap buruk oleh masyarakat, pada kenyataannya begitu mudah untuk ditemukan, bahkan untuk dilakukan. Perselingkuhan pun bukan menjadi monopoli pihak tertentu. Perselingkuhan tak kenal status sosial, tingkat pendidikan, jabatan, bidang profesi, domisili, bahkan gender. Kemajuan media massa dan teknologi semakin memperparah “mewabahnya” perselingkuhan. Istilah SII (selingkuh itu indah) seolah menjadikan perselingkuhan sebagai tren yang populer di masyarakat. Kalau kenyataannya seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apa yang salah? Dan… siapa yang salah?

Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketakwaan masyarakat kita, yang katanya “masyarakat religius”. Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Tapi ternyata, permasalahannya tidak sesederhana itu. Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kita “biasa” mendengarnya. Kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini.

Memang ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Tapi yang jelas, kita tak bisa “menghakimi” media massa dan teknologi sebagai pihak yang salah. Karena meskipun media massa melalui televisi begitu rajin menyuguhkan acara-acara sinetron, telenovela dan infotainment yang menceritakan tentang perselingkuhan, dan juga koran/tabloid yang juga rajin memuat berita atau cerita tentang perselingkuhan, yang bisa saja menjadi “contoh” dan “inspirasi” yang tidak baik kepada penonton dan pembacanya, tapi media massa hanyalah mengangkat potret masyarakat kita yang sebenarnya, dan bukan didasarkan pada imajinasi semata ataupun sebuah propaganda. Sedangkan teknologi, meskipun menghasilkan HP dengan segala fasilitasnya, dan juga internet dengan segala fasilitasnya yang menjadi booming di masyarakat kita bisa dijadikan “sarana” dan “media” selingkuh yang mudah, cepat, efisien, dan efektif, tapi teknologi hanyalah “alat bantu” manusia. Segala manfaat dan mudaratnya sangat bergantung pada manusia sebagai subjek.

Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga berkaitan langsung dengan pasutri yang bersangkutan. Salah satu pihak pasutri yang berselingkuh pastilah dianggap sebagai pihak yang salah. Akan tetapi, tanpa bermaksud “membela” pihak “peselingkuh” tersebut, kita juga harus bisa melihat dan menilai secara objektif dan proporsional apa “latar belakang” dan “penyebab” orang tersebut melakukan perselingkuhan. Kita tak bisa memberi cap “peselingkuh” tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit “peselingkuh” tersebut termasuk tipe suami/istri yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, dan bukan tipe orang yang “gatel”, yang senangnya kelayapan dan lihai mencari “mangsa”.

Ada banyak “motivasi” dan “latar belakang” pasutri melakukan perselingkuhan, yang sebenarnya hal tersebut merupakan indikator “ketidakberesan” di dalam rumah tangga mereka, walau sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk dan bervariasi yang dialami pasutri di dalam rumah tangga mereka merupakan faktor utama; mulai dari masalah ekonomi, masalah anak, masalah “keluarga besar” (bisa dari keluarga salah satu pihak/malah kedua belah pihak), masalah psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial dan pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, “terjebak” pada rutinitas, kejenuhan, masalah seksual, dan masih banyak lagi.

Semua masalah itu membuat rumah tangga pasutri mana pun menjadi rentan perselingkuhan, yang kalau dibiarkan begitu lama dan intens bisa menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa “meledak” dan menghancurkan semua yang telah susah payah dibangun selama ini.

Kehadiran WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), baik yang masih single, janda/duda, ataupun sama telah menikah, memang banyak dituding sabagai biang kerok terjadinya perselingkuhan di dalam rumah tangga. Tak sedikit istri yang langsung melabrak wanita selingkuhan suaminya, ataupun suami yang langsung ngamuk kepada pria selingkuhan istrinya, begitu mereka mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi, benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada para WIL atau PIL? Kalau memang rumah tangga mereka “baik-baik” saja, dan pasangan mereka pun “baik-baik” saja, kenapa sampai bisa masuk “orang ketiga” di tengah-tengah mereka?

Kita tak bisa langsung memberi cap WIL atau PIL itu sebagai “wanita/pria penggoda”, home broker (perusak rumah tangga orang), orang brengsek, “gatel”, rendahan, tak bermoral, dsb. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang berkarateristik seperti itu, tapi tak sedikit juga WIL atau PIL itu yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, berpendidikan, dan bukanlah tipe orang yang “liar” atau “binal”.

Selain itu, kita juga tak bisa menuduh “motivasi” mereka adalah materi ataupun faktor ekonomi. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang memang pangeretan dan materialistik, yang bisanya hanya memanfaatkan uang atau harta selingkuhannya, tapi tak sedikit pula WIL atau PIL yang “rela” berselingkuh dengan suami atau istri orang lain yang jelas-jelas kere, boke, ataupun miskin. Tapi kenapa mereka mau juga melakukan perselingkuhan itu? Jelas, “motivasi” mereka bukanlah faktor materi.

Mungkin bisa jadi mereka sedang mengalami krisis perhatian, kasih sayang, perlindungan, merasa benar-benar “kesepian”, kekosongan, benar-benar butuh “sandaran”, dan “teman berbagi”. Atau bisa jadi juga mereka menaruh suka, simpati, atau malah… jatuh hati. Bagaimana bila ternyata suami atau istri yang berselingkuh itu sama-sama jatuh hati, atau setidaknya sama-sama tertarik dengan WIL ataupun PIL-nya masing-masing? Bukankah itu adalah masalah yang substansial?

Tapi… bukankah perasaan “cinta” kepada orang yang bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita? Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata.

Letak permasalahan topik ini bukan pada “siapa yang salah”, karena hal tersebut justru akan menjadi polemik yang berkepanjangan dan tak ada titik temu. Yang terpenting dalam masalah ini adalah, apa penyebab dan latar belakang terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga tersebut, dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya, yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang bersangkutan dan juga WIL/PIL-nya masing-masing, karena yang paling tahu persis permasalahannya dan yang mengalaminya langsung adalah mereka sendiri.

Seperti apa pun solusi yang mereka tempuh, atau seperti apa pun ending dari perselingkuhan tersebut, sepatutnyalah dilakukan dengan cara-cara yang bijak, dewasa, bermartabat dan untuk kebaikan semua. Bukan dengan cara-cara yang barbar, kekanak-kanakan, arogan, dan egoistis. Jangan sampai masalah perselingkuhan yang merupakan masalah “besar” dalam rumah tangga, menjadi semakin “besar” dan “melebar” ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya aib kita yang terekspos kepada umum, tapi juga masalah “inti”-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, dan air mata.***

Penulis pengamat sosial tinggal di Tasikmalaya.

16 comments

  1. Sebenarnya semua harus di kembalkan kepada diri si palaku masing-2. Niat awalnya seperti apa? saya yakin kalau niatnya memang tulis, tidak ingin macam2, pasti godaan seperti apapun tidak akan mampu mengetarkannya.


  2. saya sering selingkuh dengan…. laptop bu hehehhe


  3. Aduuh Riva, hari gini kok selingkuh sih! Kata Ustad Sanusi……:D
    Konfirmasi nih Teh Riva, linknya dah nampang tuh! Tengkiu!


  4. pada dasarnya setiap manusia diberikan rasa puas yang tidak akan ada habisnya. Punya harta banyak masih korupsi, siapakah yang harus disalahkan? apakah si’pengkorupsi’ itu atau yang ‘terkorupsi’ itu?
    Begitu pula dengan SII itu, sudah diberikan istri/suami yang cantik/ganteng (menurut mereka loh…) masih saja ingin mencari yang lebih baik lagi katanya…
    istri/suami dirumah sudah tidak bisa diajak berkomitmen lah, sudah tidak bisa memuaskan lagilah, atau apalah alasannya sebagai pembenaran SII. Pihak ‘peselingkuh’ adalah pihak yg menurut saya yg patut disalahkan, apapun latar belakang penyebabnya. Tidak ada alasan untuk berselingkuh jika kita sebagai pasutri masih ingin ‘mematuhi’ komitmen diawal pernikahan dulu. Jikalau memang sudah tidak bisa di pertahankan lagi keutuhan RT lebih baik ajukan CERAI atau CERAIkan saja, kemudian baru cari lagi penggantinya, tidak dengan melakukan perselingkuhan.


  5. Sinetron mbak…. sinetron yang ngajarin..


  6. Yaaa kan enak mana selingkuh atau nikah resmi? Walau harus menjadi istri yang ke sekian?


  7. kadang apa pun dibenarkan untuk cinta .. seseorang yang sudah berumah tangga mungkin akan lupa pada istri/suami nya ketika mereka merasakan jatuh cinta pada orang lain selain istri/suami nya ..

    iya .. tapi diakui ataw tidak .. kadang selingkuh memang indah .. hehehe😀


  8. NIKAH BAWAH TANGAN
    PELECEHAN TERHADAP WANITA

    Perkawinan yg tdk di catat oleh pemerintah yaitu nikah di bawah tangan akan membawa dampak negatif, atau membawa akibat buruk terhadap anak, harta, perempuan/ istri, dgn salah satu pasangan dari suami -istri bila terjadi perceraian dikemudian hari, bahkan sejak terjadinya perkawinan.
    Selain satu bentuk pelecehann terhadap perempuan yg juga dpt menghilangkan hak2nya adalah nikah yg tdk tercatat atau di bawah tangan. Nikah dibawah tangan akan banyak menimbulkan madarat – seperti gunjingan – dan juga fitnah dari kiri dan kanan.
    Dijelaskan dlm hukum islam *figh) tdk menybutkan secara rinci bahwa pencatatan perkawinan merupakan sakah satu syahnya perkawinan, tetapi hanya menyebutkan ketentuan umum bagi calon mempelai laki2 dan perempuan adanya 2 wali orang saksi, wali ijab kabul dan mahar.
    ‘walau demikian bukan berarti hukum islam menafikkan adanya pencatatan perkawinan. Tujuan dari syariat islam adakah mendatangkan mas hlahat dan menghindarkan bahaya.
    Kalau mendatangkan bencana dan fitnah…. Haruskah di akukan? Karena kita hidup berdampungan dan hidup bermasyarakat…. Bagaimana pendapat ada?


  9. Selingkuh … ? lebih banyak susahnya


  10. SELINGKUH pada awalnya tidak disengaja dan tidak ada niatan untuk melakukannya. pertama kali hanya sebatas iseng dan mengisi waktu luang untuk menghilangkan kejenuhan. karena dari iseng inilah akhirnya terjadi PERSELINGKUHAN.
    Ini bisa terjadi oleh siapa saja, baik laki2 maupun perempuan.
    Maka berhati2lah! jangan mendekati apa yang namanya selingkuh.
    *tapi orang2 bilang selingkuh itu enak laho******* Selingkuh itu nikmat**BENARKAH? Mau buktikan hubungi saya…

    SALAM KENAL SAJA DEH!


  11. Kutipan dari Seorang teman…..
    (teori seh ok ya ro_emote_wah.gif )

    Untuk Para Suami …..coba renungkan
    Kang…Mas.. .Bang…. Pak…..
    istri kita rela menjadikan kita sebagai pendampingnya,
    walau mungkin ada lelaki lain yang lebih baik sebagai pendamping bagi dia

    istri kita rela menghabiskan usianya untuk mendampingi kita, rela bertambah
    tua selama mendampingi kita
    walau mungkin usianya bisa lebih bernilai dan lebih menyenangkan bila tidak
    bersama kita

    istri kita rela mengisi hari-harinya untuk memperhatikan dan melayani kita,
    walau mungkin hari-hari itu, bisa dia gantikan dengan yang lebih
    menyenangkan dan menghiburnya

    istri kita tersekat ekspresinya gara-gara menjadi pendamping kita
    istri kita menghabiskan energi cintanya untuk kita
    istri kita rela menggantungkan hidupnya kepada kita
    istri kita kehilangan teman dan ruang pergaulannya untuk hanya menjadi teman
    bergaul kita
    bahkan istri kita rela kehilangan namanya di lingkungannya untuk digantikan
    dengan nama kita

    Sementara… .
    kita senang bercanda dan tertawa dengan karyawati sekantor kita,
    tetapi mahal tersenyum kepada istri kita

    kita ramah sekali bercakap dengan kenalan wanita kita,
    tetapi bercakap kering seperlunya ketika bicara dengan istri kita

    kita sebarkan pandangan dan senyum untuk wanita di luar rumah,
    tetapi bermuka masam untuk istri di rumah kita

    Apakah arti pernikahan menurutmu wahai para suami ?
    apakah pernikahan adalah alat pemenjaraan dimana energi, ekspresi, cinta,
    harapan istri diarahkan untuk melayani ego kita sebagai suami ?

    sementara kita bebas untuk mereguk segala kesenangan di luar rumah, di luar
    kota, bahkan di luar negeri …
    sementara kita puas mereguk ego kita dalam pergaulan, ketenaran, jabatan….

    Kang…Mas.. .Bang…. Pak…..
    Istri kita adalah bidadari di rumah kita
    Betapa besar cinta dan jasa bidadari itu bagi kita
    Balaslah jasanya dengan cinta kita yang penuh kepadanya
    ucapkan senantiasa “I Love You” setiap hari untuk menguatkan cintanya, untuk
    menguatkan harapannya.. …
    Wahai SUAMI..
    renungkanlah

    Pernikahan atau perkawinan menyingkap tabir rahasia

    Istri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah
    Tidaklah setaqwa Aisyah
    Tidaklah setabah Fatimah

    Justru,
    Istrimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah..
    Pernikahan atau perkawinan mengajar kita kewajiban bersama
    Istri menjadi tanah, kamu langit penaungnya
    Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya
    Istri kiasan ternakan, kamu gembalanya
    Istri adalah murid, kamu mursyidnya
    Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya

    Saat istri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya
    Ketika istri menjadi racun, kamulah penawar bisanya

    Seandai istri tulang yang bengkok, berhati-hatilah
    meluruskannya.

    Pernikahan atau perkawinan menginsafkan kita,
    perlunya iman dan taqwa
    Untuk belajar meniti sabar dan redho ALLAH SWT
    karena
    Memiliki istri yang tak sehebat mana

    Justru
    Kamu akan tersentak dari alpa
    Kamu bukanlah Rasulullah s.a.w
    Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah
    SUAMI dan ISTRI ingatlah:

    Mengapa mendambakan istri sehebat Khadijah
    Andai diri tidak semulia Rasulullah s.a.w.
    Tidak perlu istri secantik Balqis
    Andai diri tidak sehebat Sulaiman

    Mengapa mengharapkan suami setampan Yusuf
    Seandai kasih tak setulus Zulaikha
    Tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim
    Andai diri tidak sekuat Hajar dan Sarah..

    “TERCIPTANYA KITA BUKAN TANPA TUJUAN, PASTI ADA BALASAN DI AKHIR SEMUA INI”
    “HIDUP TIDAK MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG KEDUA KALI, MAKA JADIKAN DUNIA INI
    UKIRAN AMAL YANG TIDAK TERNILAI ”

    JANGAN BERLAKU SEPERTI “BUAYA DARAT”
    JANGAN COBA2 MENYAKITI / MENGIANATI ISTRI / MENDUAKAN ISTRI *KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI*
    JANGAN COBA2 BERISTRI LEBIH DARI SATU, JIKA TIDAK MAMPU dan BERLAKU ADIL SESUAI DGN TUNTUNAN AGAMA.


  12. Saya juga sedang coba-coba selingkuh… hanya nyobain sapa tahu bisa jadi beneran.. ****


  13. saya terima berita adegam mesul pelajar di ciancur, adakah cerita lengkapnya


  14. Yang paling berbahaya adalah selingkuh Batin? akan sangat sulit melupakan, Kecuali si dianya benar2 bertobat, jangan sampai hanya cuma bilang di depan kita tapi di belakang tetap main perselingkuhan dengan lebih tertutup dan penuh hati2 supaya tidak ketahuan.
    Awalnya cuma bertemu bercanda – lama sms-sms an, dan akhirnya tebak sendiri deh..
    Maka berhati2lah.. sekali berbuat akan sulit melupakan..dan menyesal seumur-hidupmu..

    Salam
    http://tentang-pernikahan.com/article/articleindex.php?aid=732&cid=2


  15. Di keluarga saya juga terjadi hal yang sama, tepatnya oktober 2006 satu tahun yang lalu.. Istri dengan teman kampusnya dan sampai saat inipun saya sulit melupakan kejadian itu.
    Hati ini terasa tercabik2 dan teriris-iris rasanya. Tetapi saya bertekad demi anak-anak, saya berusaha mencoba dan mencoba dengan mendekatkan diri pada tuhan. Sholat malam dan tahajut sering saya lakukan untuk menenangkan hati saya.
    Istri dari hari-kehari sudah menunjukkan sikap yang baik dan berubah 100%, telah menyadari semua kesalahannya dan bertobat untuk tidak melakukannya kembali..

    Kesalahan dapat dilakukan oleh siapapun.. asal kita mau bertobat dan tidak mengulangi kesalahan2 kembali, insya allah ada jalan keluarnya…

    Do’akan kami bisa merajut cita kasih yang sempat hilang dapat membina rumah tangga yang islami.

    Salam Kenal


  16. huahahahaha..ko ga malu si copy paste tulisan orang si…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: