h1

Mendidik Anak Cerdas Berbakat

January 2, 2008

Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya.

Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa?
Kemudian, apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depannya?
Jawabannya adalah: Prestasi dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), dan BUKAN HANYA prestasi akademik.

Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu.

9 Jenis Kecerdasan
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi (saya memasukkan kecerdasan Spiritual walaupun masih diperdebatkan kriterianya) :

  1. Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata
  2. Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi
  3. Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama
  4. Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak
  5. Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung
  6. Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain
  7. Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri
  8. Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar
  9. Cerdas Spiritual – menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta

Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.

Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol.

Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika.

Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru PERAN ORANG TUA dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung JAUH LEBIH PENTING dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.

Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu HARUS berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.

4 comments

  1. enak mana yaaa, punya anak cerdas atau mBeneh. Ndak boleh dipilih cerdas yang mBeneh. Pilih satu saja.


  2. Kalau Saya Pilih Anak Cerdas dan Penurut…


  3. Mengapa pilih Kata cerdas? Dalam Al Quran & Hadist tidak banyak kata cerdas (Fathony)tapi pilihannya adalah kata Sholih. kalau saya pilih anak sholih karena rosululloh SAW sebaik- baik orang sholih, kesolihannya itu terdiri dari siddiq (benar perkataan dan perbuatan), amanah (dapat dipercaya), fathonah (pintar/cerdas)dan tablig (sumber ilmu bagi orang lain). jadi setiap doa saya memohon kepada Alloh SWT untuk diberikan kepada saya anak yang sholih.


  4. Saya pilih anak normal saja. Banyak orang bilang enak punya anak cerdas, saya bilang Ga selamanya! makin besar malah tambah pusing, apalagi kalo’ orang tuanya ga cerdas juga. apalagi kalo’ semakin besar dengan keinginan yang semakin membuat kita kewalahan. Beruntung kalo’ dia dari keluarga mampu, kalau tidak… (di Indonesia ga akan jadi apa2)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: