h1

Potensi Wisata Arkeolog Bawah Air

January 1, 2011

Provinsi Banten, memiliki potensi wisata arkeolog bawah air yang cukup potensial, mengingat Selat Sunda sejak zaman kolonial dulu, merupakan jalur perdagangan berbagai negara di Eropa dan Asia.
“Ketika itu, banyak kapal-kapal dagang yang membawa barang berharga tidak sampai ke negaranya. Dalam arti, kata tenggelam ditengah perjalanan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Banten, Egy Djanuswati, dalam seminar mengenai peninggalan arkeologi di bawah laut di Serang, Banten, beberapa waktu lalu.

Sejumlah peninggalan itu, menurut Egy, ada yang dijarah pemburu harta dari luar negeri, mengingat Indonesia sampai saat ini masih keterbatasan dari segi pendanaan, teknologi, serta persoalan resiko untuk mengambil peninggalan dari bawah laut.
Egy mengutip pernyataan Direktur Peninggalan Bawah Air Ditjen Sejarah dan Kepurbakalaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi, yang hanya memiliki data 463 lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia. Sementara literatur di luar negeri, jumlahnya 30.000 lokasi.
Egy mengatakan, data dari pemerintah pun, belum dapat menjadi pegangan, masih harus dilakukan penelitian lebih jauh untuk menentukan titik lokasi.

Ia menambahkan, banyak dari lokasi tenggelamnya kapal itu, kini sudah tidak ada barang berharganya, hanya kerangka (bangkai) kapal yang kalaupun diangkat sudah tidak ada nilai ekonominya.
“Akan tetapi, bangkai kapal ini merupakan obyek pariwisata yang menarik bagi kalangan penyelam, sehingga menjadi daya jual yang cukup potensial bagi sektor pariwisata kedepannya,” katanya.
Egy mengatakan, untuk mencegah pencurian peninggalan sejarah di bawah laut, memang sangat sulit. Untuk itu, perlu koordinasi dengan Kepolisian dan TNI-AL, untuk melindungi kekayaan di bawah laut

“Kunci akhirnya, berpulang kepada masyarakat. Apabila masyarakat menemukan peninggalan bersejarah, sebaiknya dilaporkan kepada pemerintah. Apalagi dalam peraturan sekarang ini dimungkinkan setiap laporan apabila benar adanya akan mendapatkan imbalan,” ujarnya.  Egy mengatakan, keyakinannya masih ada peninggalan berharga di bawah laut, di kawasan Provinsi Banten, yang belum digarap pemerintah. Setidaknya, ada di tiga lokasi yakni di Selat Sunda, Kepulauan Seribu, dan Teluk Banten.
“Buktinya belum lama ini ditemukan keramik peninggalan bersejarah di Tangerang yang harga jualnya di luar negeri cukup tinggi,” ujarnya.

Egy mengatakan, sebagai tahap awal untuk menyelamatkan kekayaan peninggalan sejarah di Banten, melalui sosialisasi terlebih dahulu dengan berbagai pihak, untuk kemudian kedepannya harus ada tindak lanjut untuk menyelamatkannya.
Direktur Peninggalan Bawah Air Ditjen Sejarah dan Kepurbakalaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi mengatakan, untuk menyelamatkan peninggalan sejarah di bawah laut, pihaknya seringkali menemui kesulitan untuk peralatan.
Dia mencontohkan, pernah di suatu lokasi ditemukan harta, tetapi tidak dapat diambil, karena disekitarnya terdapat meriam, berikut amunisi yang masih aktif.
Upaya penyelamatan kemudian ditunda, karena pihaknya harus meminta bantuan ke pihak TNI AL yang memiliki pengalaman untuk menjinakkan senjata tersebut. Tetapi saat menyelam esok harinya, barang tersebut sudah tidak ada, kata Surya menjelaskan suka dukanya. | Yusvin Karuyan

Provinsi Banten, memiliki potensi wisata arkeolog bawah air yang cukup potensial, mengingat Selat Sunda sejak zaman kolonial dulu, merupakan jalur perdagangan berbagai negara di Eropa dan Asia.“Ketika itu, banyak kapal-kapal dagang yang membawa barang berharga tidak sampai ke negaranya. Dalam arti, kata tenggelam ditengah perjalanan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Banten, Egy Djanuswati, dalam seminar mengenai peninggalan arkeologi di bawah laut di Serang, Banten, beberapa waktu lalu.Sejumlah peninggalan itu, menurut Egy, ada yang dijarah pemburu harta dari luar negeri, mengingat Indonesia sampai saat ini masih keterbatasan dari segi pendanaan, teknologi, serta persoalan resiko untuk mengambil peninggalan dari bawah laut.Egy mengutip pernyataan Direktur Peninggalan Bawah Air Ditjen Sejarah dan Kepurbakalaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi, yang hanya memiliki data 463 lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia. Sementara literatur di luar negeri, jumlahnya 30.000 lokasi. Egy mengatakan, data dari pemerintah pun, belum dapat menjadi pegangan, masih harus dilakukan penelitian lebih jauh untuk menentukan titik lokasi.Ia menambahkan, banyak dari lokasi tenggelamnya kapal itu, kini sudah tidak ada barang berharganya, hanya kerangka (bangkai) kapal yang kalaupun diangkat sudah tidak ada nilai ekonominya.“Akan tetapi, bangkai kapal ini merupakan obyek pariwisata yang menarik bagi kalangan penyelam, sehingga menjadi daya jual yang cukup potensial bagi sektor pariwisata kedepannya,” katanya.Egy mengatakan, untuk mencegah pencurian peninggalan sejarah di bawah laut, memang sangat sulit. Untuk itu, perlu koordinasi dengan Kepolisian dan TNI-AL, untuk melindungi kekayaan di bawah laut.“Kunci akhirnya, berpulang kepada masyarakat. Apabila masyarakat menemukan peninggalan bersejarah, sebaiknya dilaporkan kepada pemerintah. Apalagi dalam peraturan sekarang ini dimungkinkan setiap laporan apabila benar adanya akan mendapatkan imbalan,” ujarnya.Egy mengatakan, keyakinannya masih ada peninggalan berharga di bawah laut, di kawasan Provinsi Banten, yang belum digarap pemerintah. Setidaknya, ada di tiga lokasi yakni di Selat Sunda, Kepulauan Seribu, dan Teluk Banten.“Buktinya belum lama ini ditemukan keramik peninggalan bersejarah di Tangerang yang harga jualnya di luar negeri cukup tinggi,” ujarnya.Egy mengatakan, sebagai tahap awal untuk menyelamatkan kekayaan peninggalan sejarah di Banten, melalui sosialisasi terlebih dahulu dengan berbagai pihak, untuk kemudian kedepannya harus ada tindak lanjut untuk menyelamatkannya.Direktur Peninggalan Bawah Air Ditjen Sejarah dan Kepurbakalaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi mengatakan, untuk menyelamatkan peninggalan sejarah di bawah laut, pihaknya seringkali menemui kesulitan untuk peralatan.Dia mencontohkan, pernah di suatu lokasi ditemukan harta, tetapi tidak dapat diambil, karena disekitarnya terdapat meriam, berikut amunisi yang masih aktif.Upaya penyelamatan kemudian ditunda, karena pihaknya harus meminta bantuan ke pihak TNI AL yang memiliki pengalaman untuk menjinakkan senjata tersebut. Tetapi saat menyelam esok harinya, barang tersebut sudah tidak ada, kata Surya menjelaskan suka dukanya. |standardberita.com|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: