h1

Potensi Pertanian Provinsi Banten

January 17, 2011

Pertanian Peternakan Banten

Pertanian Peternakan Banten

Luas panen dan produksi budidaya padi dari 338.666 ha dan 1.468.765 ton atau dengan tingkat produksi per hektar mencapai 4,34 ton/ha pada tahun 2002 telah berkembang menjadi 364.721 ha dan  1.812.495 ton atau dengan tingkat produksi per hektar mencapai 49,7 ton/ha hingga tahun 2005. Bila mengacu pada pola perkembangannya, pada tahun 2005 dan 2006 tingkat produksi per hektar diperkirakan tetap meningkat meskipun dengan kecenderungan melambat. Praktek budidaya selama kurun waktu 2002-2004 semakin membaik (intensif), sebagaimana tercermin dari laju pertumbuhan produksi rata-rata yang lebih tinggi (11,16% per tahun) dari laju pertumbuhan luas panen rata-rata (2,33% per tahun) atau dengan rasio 4,78 (apabila nilai rasio > 1 maka kecenderungannya intensifikasi, dan apabila nilai rasio < 1 maka kecenderungannya ekstensifikasi).
Meskipun rata-rata laju pertumbuhan kinerja produksi per luas panen untuk seluruh jenis tanaman palawija yang diusahakan meningkat, namun pola dan praktek produksi palawija relatif belum bertumbuhkembang, dimana dengan laju pertumbuhan rata-rata luas panen yang cukup baik (2,48% per tahun) namun peningkatan laju pertumbuhan rata-rata produksi hanya sebesar 4,08% per tahun, atau dengan rasio yang hanya mencapai 1,64. Diantara berbagai jenis tanaman palawija yang diusahakan, hanya ubi kayu dan kacang kedelai yang memiliki rasio laju pertumbuhan produksi rata-rata berbanding laju pertumbuhan luas panen rata-rata di atas angka 1 (masing-masing 1,41 dan 6,75).

Secara rata-rata luas panen untuk jenis tanaman sayuran yang diusahakan mengalami peningkatan dari 13.777 ha pada tahun 2002 menjadi 19.095,13 ha hingga tahun 2005. Namun dalam kurun waktu yang sama, produktifitas untuk jenis tanaman sayuran yang diusahakan semakin menurun, dimana berdasarkan kapasitas produksi per luas panen dari 59,71 ton/ha pada tahun 2002 menjadi 7,51 ton/ha pada tahun 2005. Penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh perubahan variasi minat petani terhadap jenis tanaman yang diusahakan dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan luas panen dalam kurun waktu 2002-2004 bergerak pada angka 17,75% per tahun, namun laju pertumbuhan produksi justeru berada pada posisi -0,73% per tahun.

Budidaya ternak di Provinsi Banten meliputi jenis budidaya sapi potong, sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba dan babi. Secara keseluruhan, jumlah populasi ternak yang dibudidayakan semakin meningkat antara tahun 2002-2004 dengan rata-rata laju pertumbuhan jumlah dan jenis populasi sebesar 24,97% per tahun. Persediaan (stock) ternak untuk kebutuhan konsumsi daging pada tahun 2004 dibandingkan dengan jumlah ternak yang dipotong menunjukkan sisi penyediaan yang sudah sangat memadai. Khusus untuk ternak sapi, jumlah populasi ternak yang tersedia pada tahun 2004 hanya 24,25% terhadap jumlah ternak yang dipotong, sehingga dalam penyediaan kebutuhan konsumsi sebagian besar masih didatangkan dari luar.

Populasi ternak unggas di Provinsi Banten dalam kurun waktu 2002-2005 mengalami peningkatan dengan rata-rata laju pertumbuhan jumlah untuk seluruh jenis sebesar 16,70%, yang meliputi ayam buras, ayam ras (pedaging dan petelur) serta itik. Sedangkan untuk produksi ternak unggas, walaupun secara keseluruhan masih memiliki rata-rata laju pertumbuhan produksi sebesar 14,79%, namun untuk produksi ternak yang menghasilkan daging (ayam buras dan ayam pedaging) setiap tahunnnya mengalami penurunan. Pada tahun 2005-2006 diperkirakan populasi dan produksi unggas mengalami penurunan seiring dengan merebaknya kasus flu burung yang menyebabkan adanya kegiatan pemusnahan unggas maupun penurunan diakibatkan kekhawatiran masyarakat dalam mengkonsumsi daging unggas.

Nilai tambah komoditas ini masih rendah karena pada umumnya pemasaran atau ekspor dilakukan dalam bentuk segar (produk primer) dan olahan sederhana. Perkembangan industri hasil pertanian belum optimal, ditunjukkan oleh rendahnya tingkat utilisasi industri hasil pertanian dan perikanan. Peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui proses pengolahan memerlukan investasi dan teknologi pengolahan yang lebih modern. Kondisi ini diperberat oleh semakin tingginya persaingan produk dari luar negeri, baik yang masuk melalui jalur legal maupun ilegal. Perkembangan dalam tiga tahun terakhir, Indonesia sudah menjadi importir netto untuk komoditas tanaman bahan makanan, hasil ternak dan pakan ternak, beras, jagung, dan gula.

Pendapatan per kapita petani/nelayan dan masyarakat di sekitar hutan di Provinsi Banten dari sekitar Rp. 6.538.232 per kapita/tahun pada tahun 2002 meningkat menjadi Rp. 8.004.179 per kapita/tahun hingga tahun 2005, dan bila melihat rata-rata pengeluaran per kapita per bulan pada tahun 2005 yang sebesar Rp. 1.956.287 per kapita/bulan tentunya pendapatan petani masih jauh tertinggal (Rp. 667.015 per kapita/bulan). Selanjutnya, sebagian besar kelompok masyarakat ini termasuk golongan miskin dengan usaha pertanian, perikanan dan kehutanan, yang masih tradisional dan bersifat subsisten.

One comment

  1. Tingkatkan produksi gabah dengan menggunakan pupuk humagrow



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: